Hai!

Aku Mirza Bareza Penulis Podcaster

Karya Business Inquiries

Skill

Kepenulisan
Video Editing
Photography
AKU

Mirza Bareza.

Penulis dan Vlogger

Jurnalistik adalah pintu yang mengantarkanku mengenal desain grafis, video editing dan segala hal tentang ilmu komunikasi. Dedikasi tersebut pun membuahkan gagasan Startup Open Online Courses bernama JadiJurnalis.com

Pengalaman sebagai Ketua Bidang Media dan Komunikasi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Renaissance FISIP UMM dan Reporter di Public Relation and Anything Regarding Protocol of UMM membawaku lebih dalam menjelajahi dan mencintai dunia kepenulisan.

Ragam Tulisan

Review

Review produk berbagai macam hal dan keperluan

Jumat Sharing

Topik-topik hangat dan berbagai hal yang barangkali bermanfaat

Monday Energy

Tulisan rutin tentang semangat menjalani hari Senin

Catatan Singkat

Catatan penggugah ghirah menggapai cita dan harapan

Karya

Ayahku Resign Kerja, Ibuku Jual Sayur, Keajaiban Perbuatan Baik Membuat Keluarga Kami Lebih Hidup


Aku adalah salah satu orang yang sangat percaya pada keajaiban kebaikan. Hal ini dimulai dari sebuah kisah sederhana.

Saat itu aku masih dalam keseharian putih biru. Disaat semua teman-teman lainnya memiliki uang saku Rp.10.000, Ayah Ibuku Alhamdulillah secara konsisten memberiku Rp.5.000. Rp.2.000 untuk pulang pergi angkot ke sekolah. Rp.2.000 untuk makan pecel. Rp.1.000 untuk jajan. Itulah keadaannya. Uang sakuku harus dibagi dengan adikku.

Susah sekali mencari uang. Ayah saat itu memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai konsultan pajak di Jakarta pasca kepergian Bapaknya ke Rahmatullah. Ayah dipaksa resign oleh bakti dan waktu pada sisa umur Ibunya.

Saat itu adalah saat-saat yang berat. Bagaimana tidak, ayah yang telah lama meninggalkan Jember harus membangun kembali seluruh jaringannya di Jember. Selama hampir setengah tahun, Ayah potang-panting cari kerja. Untuk membatu, Ibu berjualan sayur setiap pagi di depan rumah.

Bagiku saat itu, berama bukanlah pilihan yang utama. Rasanya begitu berat memasukkan uang ke dalam kotak amal. Jangankan ribuan, ratusan rupiah pun aku tak rela.

Namun suatu ketika aku coba-coba saja percaya pada keajaiban kebaikan. Setelah usai witir Jumatan bersama teman-teman SMP, ada sisa uang Rp.500 di kantong. Ku masukkan saja ke kotak amal. Setelah itu aku sama sekali tak mencoba mengingat-ingatnya.

Malamnya, aku sedang bersantai menonton TV. Padahal Ibu sudah mengencangkan suaranya untuk memintaku segera belajar. Tak disangka dari HPku Nokian 1280 tiba-tiba ada SMS masuk.

"Mas, Jas OSIS-mu dijual gak?," Tanya seorang adik kelas yang baru saja dilantik jadi anggota OSIS. Aku tahu betul jika Jas OSIS kala itu sangatlah mahal. Harganya Rp.80.000!

"Mau dibeli berapa?," Tanyaku balik.

"Sampeyan maunya berapa? Ojo mahal kayak di sekolah," balasnya lagi.

"50.000!" Jawabku bercanda.

"Deal! Jangan kasih tahu guru ya Mas, soalnya aku gak pesen. Mending beli di sampeyan, lebih murah," katanya.

Aku menganga! Dalam hatiku bertanya, OPO IKI REK?

Pikiranku langsung tertuju pada kotak amal masjid siang tadi.

Secepat itu Allah membalas. Wasyem!

Walaupun kesadaranku masih ada di tahap pembalasan kebaikan materiil, tapi ini salah satu jalan pembuka dari Allah bagiku.

Sejak saat itu, aku terus mencoba untuk menebar kebaikan. Aku perlahan-lahan memahami, mengapa Rasul walau pun sangat kaya namun hidupnya sangat sederhana. Ia pun selalu bermurah hati dan tidak segan untuk banyak beramal.

Nyatanya, setiap harta kita bukan sepenuhnya milik kita. Ada sebagian harta titipan Allah milik orang lain. Pun, harta itu juga bukan sepenuhnya bukan milik kita namun hanya sebuah titipan.

Melalui kepercayaan inilah kami sekeluarga Alhamdilillah mendapatkan bertubi-tubi rezeki dan kebaikan kembali. Ekonomi perlahan-lahan membaik. Masing-masing dari kami tidak pernah sakit parah dan Alhamdulillah semuanya baik-baiknya.

Beramal tidak harus kaya. Beramal tidak harus uang. Ilmu bermanfaat dan waktu bagi membantu orang lain.

Melalui mengikuti orgnisasi perkaderan, aku mencoba melatih diri untuk menjadi pirbadi yang bermanfaat. Mulai membuat berbagai program untuk pembelajaran adik-adik di organisasi hingga turun langsung mendengarkan napas dan denyut nadi masyarakat.

Aku juga mendirikan JadiJurnalis.com yang ku harapkan dapat menjadi wadah belajar seluruh orang yang memiliki minat pada dunia jurnalistik. Semoga ke depan akan lebih berkembang dan mudah-mudahan kita semua di-istiqamahkan untuk terus berbuat baik serta bermanfaat bagi sesama. Aamiin!

Bukan Cuma Kamu yang Pernah Kebingungan Cari Sandal Hilang, Orang-orang Abad Pertengahan Juga


Belum lima belas menit duduk nimbrung sebuah diskusi, tiba-tiba ada teriakan dengan suara yang melengking, “Kak, sandalku mana? Rek siapa yang tahu sandalku,” tutur seorang Immawati. “Mati kon, sandal maneh,” gerutuku.

Hilangnya sandal sudah menjadi misteri tersendiri di komisariat. Mulai dari sandal hijau lumut kebanggaan Indonesia, Swallow hingga sandal gunung Fiersa Besari, Eiger. Tak pandang bulu, mulai dari tamu sampai senior, semuanya pernah mengalami ini. Entah kemana larinya sandal-sandal tersebut.

Mungkin Gladys West suatu saat nanti bisa menginovasi sandal ber-GPS supaya para hamba yang kehilangan sandal bisa segera menge-chek melalui aplikasi.

Terkait misteri hilangnya sandal ini, ada dua kubu yang masih terus berdebat. Satu sepakat sandal milik bersama, satunya tak sepakat karena segalanya tetap milik pribadi dan mesti izin untuk menggunakannya.

Ketika memutuskan diri menjadi bagian dari komisariat, tentu saja banyak hal yang akan menjadi milik bersama. Mulai dari sabun mandi hingga uang bulanan kendaraan. Terdengar ekstrem memang. Namun bagi yang tinggal di komisariat, ini adalah hal yang biasa. 

Di sisi lain, hal ini saling menguntungkan. Bagi mereka yang tak memiliki kendaraan, akan dijemput atau bisa nebeng kemana-mana untuk berbagai urusan.  

Saat ini, sedang ramai konsep tinggal secara communal atau Co-Living. Seperti yang dibahas theatlantic.com dalam artikelnya yang berjudul The Hot New Millennial Housing Trend Is a Repeat of the Middle Ages, sebut saja, konsep ini ialah layanan berbagi kendaraan, pakaian bahkan rumah. 

Ini adalah konsep yang pernah terkenal pada abad pertengahan. Sebelum terkenal lagi di kalangan Millenial, Co-Living sudah menjadi bagian inti berjalannya IMM Renaissance FISIP UMM. Bukan hanya berbagi berbagai hal. Konsep komisariat tentu tidak sama dengan sekretariat atau kantor yang hanya berguna untuk rapat serta berkumpul. 

Komisariat menjadi wadah pengembangan diri sepenuhnya. Bisa rapat, makan bersama, hingga kajian. Masalah biaya? Tentu ditanggung bersama. Mulai dari biaya diri hingga biaya tinggal, mayoritas ditanggung bersama-sama. Bayangkan saja, kontrakan satu lantai tiga kamar seharga 16 juta tiap orangnya hanya  membayar 2 juta.

Tentu saja, ditanggung oleh 8 orang yang bersedia tinggal. Ini terhitung sangat murah dibandingkan kos sendiri yang bisa mencapai 4 juta. Belum lagi ditambah patungan dari Badan Pimpinan Harian (BPH) melalui koordinasi Bendahara Umum. 

Tempat yang biasanya ditinggali oleh “sebagian” besar pimpinan, kader baru dan demisioner ini adalah konsep yang sangat ideal untuk menekan pembiayaan hidup dan pendidikan di kota sebesar Malang. Selain itu, komisariat juga menjadi tempat ideal para mahasiswa yang ingin menjadi sekedar mahasiswa. Artinya, menjadi lebih baik bukan hanya baik. 

Dengan tinggal di komisariat, kita akan terbiasa dengan lingkungan yang sesak dengan diskusi, belajar dan belajar. Beragam hal yang dipelajari, mulai dari organisasi, filsafat, media, perkaderan dan hal-hal yang ingin dipelajari sendiri secara berkelompok.

Kembali kepada persandalan duniawi. Ketika sebagian besar barang menjadi milik bersama, tentu saja tetap ada hal-hal pribadi yang tidak bisa diganggu gugat. Misal sempa* dan sikat gigi. Ini tentu tetap menjadi barang pribadi, masa iya mau gantian~

Karena digunakan bersama-sama, maka ada berbagai resiko yang dihadapi. Apa saja? Salah satunya, rusak lebih cepat. Ini sering terjadi karena intensitas penggunaan barang yang sangat sering digunakan. Ngeselin sih pasti ya. Tapi, apa nggak pengen punya amal jariyah hasil kita mengikhlaskan berbagai barang yang bisa digunakan bersama-sama.

Bukan berarti membenarkan perilaku yang demikian. Tentu saja lebih baik jika saling menjaga agar barang-barang yang kita miliki awet muda tanpa menggunakan Pond’s Age Miracle. Mari saling membantu dan menjaga. Begitu kira-kira, saya mau beli sampo kucing dulu~

Cerita Skripsi #4


Dulu, saat mahasiswa baru aku menemui beberapa mahasiswa berwajah tua wara-wiri di Kajur dan Fakultas. Kata orang-orang, "Jangan tanya semester pada orang-orang tersebut, pamali,".

Setelah sekian tahun kuliah, aku mulai mengerti alasan mengapa pamali menanyakan jumlah semester yang telah dilalui pada mahasiswa semester lanjut.

Tentu saja, rasanya sakit. Hahahaha.

Udah itu aja. Cukup. Lagi banyak sakit hati karena diketawain dan ditanyain terus kapan lulus.

Photo by Mirza Bareza

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com