Wednesday, November 13, 2019

Cerita Skripsi #1


Untuk mengiringi penyelesaian tugas JAHANAM bernama skripsi, aku akan menulis selama proses penggarapannya.

Menjengkelkan, ketika aku putuskan membaca buku Tuntunan Penulisan Tugas Akhir mataku berhenti pada satu kalimat. "Sebenarnya menggarap skripsi itu mudah, hanya saja, seringkali mahasiswa merasa dirinya tak mampu terlebih dahulu sebelum mencoba..."

GUNDULMU PEYANG MUDAH. Di-PHP-in dosen pas bimbingan, mencari satu persatu bangunan kata perkata melalui rujukan seabreg buku sampai sabar mengikuti dan memepelajari sungguh-sungguh ritme dosen pembimbing.

Eh, siapa bilang mahasiswa tingkat akhir nggak mempelajari ritme dosen pemimbing? Mula-mula mempelajari apa sukanya, jam berapa kosongnya, pas bimbingan lagi mood apa enggak. Yaa Allah, ngalah-ngalahi memahami calon istri.

Kalau saja kita tidak bisa mengikuti ritmenya, matilah kita ini dikoyak-koyak dan dilindas berbagai rutinitas dosen pembimbing. Ini realita boss...

Ada yang bilang, kalau kenal baik atau dikenal baik oleh segenap dosen, kita akan lebih mudah menjalani proses tugas akhir. Bukan dimudahkan dalam artian yang negatif. Maksudnya, para dosen tentu akan lebih tahu siapa dan bagaimana kemampuan kita. Itulah poin plus. Tapi kadang, ketika kita ingin skripsi cepet tanpa belibet, sedangkan dosen pembimbing tahu kemampuan kita, yaaaaa.... susah cepet.

Skripsi pengen cepet atau bagus?



Kalau pengen cepet ya nggak bisa bagus, ya kalau bagus ya nggak bisa cepet. Ini rumus simpel yang mengakar dari angkatan ke angkatan. Walaupun memang ada sebagian mahasiswa yang berhasil mengerjakan skripsinya dengan cepat dan bagus.

Tapi secara logika, mana ada cepet bisa bagus. Wong penelitian itu harus mengikuti seabreg peraturan meneliti. Harus valid datanya, semakin belibet yang kita teliti, semakin ribet pula pengumpulan data yang dilakoni.

Udah deh, aku lanjutkan dulu nulis skripsinya.

*Aku udah telat hampir setahun. Teman-teman angkatan sudah pada lulus, kalaupun belum, sudah beberapa yang mengerjakan hingga BAB III atau II. Nah aku? Belum sama sekali. Wong hari ini aku baru aja tahu bedanya penelitian deskriptif dan eksplanatif. hehehe. Aku kurang suka dengan hal-hal yang berbau karya ilmiah kaku begini. Setahun ini pun tidak mencoba mencari tahu banyak, karena malesssssss baget. Tapi, ada satu hal yang buat aku mau tak mau harus memaksa diri menyelesaikan skripsi ini. Masa gini aja nggak bisa, bisa dong...
Daaaa..

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com