-->

Friday, January 17, 2020

Ayahku Resign Kerja, Ibuku Jual Sayur, Keajaiban Perbuatan Baik Membuat Keluarga Kami Lebih Hidup

Aku adalah salah satu orang yang sangat percaya pada keajaiban kebaikan. Hal ini dimulai dari sebuah kisah sederhana.

Saat itu aku masih dalam keseharian putih biru. Disaat semua teman-teman lainnya memiliki uang saku Rp.10.000, Ayah Ibuku Alhamdulillah secara konsisten memberiku Rp.5.000. Rp.2.000 untuk pulang pergi angkot ke sekolah. Rp.2.000 untuk makan pecel. Rp.1.000 untuk jajan. Itulah keadaannya. Uang sakuku harus dibagi dengan adikku.

Susah sekali mencari uang. Ayah saat itu memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai konsultan pajak di Jakarta pasca kepergian Bapaknya ke Rahmatullah. Ayah dipaksa resign oleh bakti dan waktu pada sisa umur Ibunya.

Saat itu adalah saat-saat yang berat. Bagaimana tidak, ayah yang telah lama meninggalkan Jember harus membangun kembali seluruh jaringannya di Jember. Selama hampir setengah tahun, Ayah potang-panting cari kerja. Untuk membatu, Ibu berjualan sayur setiap pagi di depan rumah.

Bagiku saat itu, berama bukanlah pilihan yang utama. Rasanya begitu berat memasukkan uang ke dalam kotak amal. Jangankan ribuan, ratusan rupiah pun aku tak rela.

Namun suatu ketika aku coba-coba saja percaya pada keajaiban kebaikan. Setelah usai witir Jumatan bersama teman-teman SMP, ada sisa uang Rp.500 di kantong. Ku masukkan saja ke kotak amal. Setelah itu aku sama sekali tak mencoba mengingat-ingatnya.

Malamnya, aku sedang bersantai menonton TV. Padahal Ibu sudah mengencangkan suaranya untuk memintaku segera belajar. Tak disangka dari HPku Nokian 1280 tiba-tiba ada SMS masuk.

"Mas, Jas OSIS-mu dijual gak?," Tanya seorang adik kelas yang baru saja dilantik jadi anggota OSIS. Aku tahu betul jika Jas OSIS kala itu sangatlah mahal. Harganya Rp.80.000!

"Mau dibeli berapa?," Tanyaku balik.

"Sampeyan maunya berapa? Ojo mahal kayak di sekolah," balasnya lagi.

"50.000!" Jawabku bercanda.

"Deal! Jangan kasih tahu guru ya Mas, soalnya aku gak pesen. Mending beli di sampeyan, lebih murah," katanya.

Aku menganga! Dalam hatiku bertanya, OPO IKI REK?

Pikiranku langsung tertuju pada kotak amal masjid siang tadi.

Secepat itu Allah membalas. Wasyem!

Walaupun kesadaranku masih ada di tahap pembalasan kebaikan materiil, tapi ini salah satu jalan pembuka dari Allah bagiku.

Sejak saat itu, aku terus mencoba untuk menebar kebaikan. Aku perlahan-lahan memahami, mengapa Rasul walau pun sangat kaya namun hidupnya sangat sederhana. Ia pun selalu bermurah hati dan tidak segan untuk banyak beramal.

Nyatanya, setiap harta kita bukan sepenuhnya milik kita. Ada sebagian harta titipan Allah milik orang lain. Pun, harta itu juga bukan sepenuhnya bukan milik kita namun hanya sebuah titipan.

Melalui kepercayaan inilah kami sekeluarga Alhamdilillah mendapatkan bertubi-tubi rezeki dan kebaikan kembali. Ekonomi perlahan-lahan membaik. Masing-masing dari kami tidak pernah sakit parah dan Alhamdulillah semuanya baik-baiknya.

Beramal tidak harus kaya. Beramal tidak harus uang. Ilmu bermanfaat dan waktu bagi membantu orang lain.

Melalui mengikuti orgnisasi perkaderan, aku mencoba melatih diri untuk menjadi pirbadi yang bermanfaat. Mulai membuat berbagai program untuk pembelajaran adik-adik di organisasi hingga turun langsung mendengarkan napas dan denyut nadi masyarakat.

Aku juga mendirikan JadiJurnalis.com yang ku harapkan dapat menjadi wadah belajar seluruh orang yang memiliki minat pada dunia jurnalistik. Semoga ke depan akan lebih berkembang dan mudah-mudahan kita semua di-istiqamahkan untuk terus berbuat baik serta bermanfaat bagi sesama. Aamiin!

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com