Sunday, June 24, 2018

Manisnya Perdebatan Kutho dan Ndeso



Banyak dari kita menyebut orang yang ketinggalan perkembangan informasi dengan sebutan "ndeso" (orang desa). Bagi yang tahu banyak perkembangan akan dianggap "kutho" (orang kota). Hal ini terjadi disekeliling kita setiap hari. Seakan ini sudah menjadi hal yang biasa dan benar.

Orang ndeso selalu dianggap tinggal di pelosok dan tak tahu apa-apa. Padahal tidak begitu juga. Jika melihat kenyataan ya berbalik fakta. Orang-orang besar seperti Dahlan Iskan hingga Joko Widodo malah berlatarkan belakang orang desa.

Lalu dari mana semua ini bermula? Bila dipandang dari sudut pandang kemediaan, hal ini bisa dilihat salah satunya dari media massa terakrab bagi masyarakat Indonesia, televisi. Televisi melalui sinetron-sinetron sampai Film Televisi (FTV) menggambarkan orang ndeso dengan tampilan orang Etnis Jawa yang lengkap dengan busana dan ciri khas bicara medhok-nya.

Coba deh keluar rumah dan minta pendapat orang tentang persepsi ndeso. Aku yakin sekali, kebanyakan mereka akan menggambarkan pribadi yang tak jauh dengan pribadi Etnis Jawa. Padahal, kalau kamu tahu pakaian Jawa sesungguhnya memiliki makna yang sangat tinggi.

Tapi kok bisa ya, ndeso itu identik dengan Jawa?


ublik.id

Beberapa orang Jawa yang aku kenal diberbagai kesempatan, lebih nyaman menyebut dirinya dengan "gue" juga berusahan tidak keceplosan Bahasa Jawa dan tentu medhok-nya saat berkomunikasi. Juga, beberapa lebih senang menjawab, "Bla..Bla..Kota," bahkan "Tapi deket sama Kota," ketika ditanya daerah asal. Selalu tersemat Kota dibagian akhirnya.

Awalnya aku heran dengan tingkah laku ini. Tapi pelahan-lahan aku mulai mengerti mengapa mereka melakukan ini. Ternyata, mereka berusaha menutupi dirinya yang berasal dari desa.


Pertanyaannya, kenapa harus malu?
Apa yang membuat malu?
Dan kenapa mesti malu?

Mengapa orang malu dengan jati dirinya sebagai orang desa. Apakah orang desa identik dengan orang terbelakang sehingga memalukan ketika mengaku orang desa? 

Betapa mirisnya keadaan ini. Niat kita dalam mengenyam pendidikan harusnya dipertanyakan kembali. Apakah harapan kita bersekolah hanya ingin mendapatkan selembar kertas sakral kelulusan? Atau memang ingin bebas dan merdeka dari kebodohan? Inilah yang perlu kita pertegas!

Jika niatmu hanya ingin memperoleh ijazah, pantaslah keadaannya begini. Mengapa kita begitu tega menipu diri sendiri? Jika kita terlahir sebagai manusia, maka manusiakanlah diri kita sendiri juga. Manusia berakal, lalu mengapa harus menipu diri sendiri demi anggapan orang kota?

Hari ini kita tidak bangga menjadi orang Jawa. Alasannya jelas, karena kita tak mengenal siapa kita. Terlalu lama kita terbuai dengan amazing ala barat hingga kita lupa betapa hebatnya Patih Gajah Mada yang mungkin kita tahu nama tersebut dari plang jalan.

Pelahan-lahan media kita juga terus menyudutkan dan mengikis kepercayaan diri Etnis Jawa. Bukan hanya Jawa! Bahkan pelit diidentikkan dengan Etnis Tionghoa. Apapun etnis kita, mari berbangga. Tak perlu rasanya kita mencari pengakuan, ia akan datang sendiri ketika kita pantas menyandangnya. Tugas kita sangat simpel, yakni belajar, mengkritik-dikritik, berbenah.

pexels.com

Kita tak perlu menyalahkan televisi atau media apapun itu. Tak perlu pula melakukan tindakan-tindakan ekstrim. Semua perubahan dimulai dari diri sendiri dan menggandeng orang-orang terdekat. Ringkas lagi, ndeso dan kutho hanya masalah siapa yang lebih tahu terlebih dahulu.

Lihatlah Emha Ainun Najib! Lihatlah Haedar Nashir! Lihatlah Pramoedya Ananta Toer! Mereka selebritis sesungguhnya. Mereka orang-orang yang bangga dengan latar belakangnya sehingga terus diingat dan digugu. Mulai hari ini, sekali lagi, tak perlu kita malu menjadi diri sendiri.


"Medhok o, gak usah isin. Merdekao, iki guduk masa kolonial."

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com