Friday, September 7, 2018

Harmoni Antara Berpikir dan Berzikir
Ada dua macam orang, berzikir tak berpikir dan berpikir tak berzikir. Bayangkan betapa luar biasa berbahayanya kedua macam orang ini. Yang satu tak pernah berpikir namun terus berzikir, satunya lagi tak pernah berzikir namun terus berpikir.

*Zikir: mengingat Tuhan
*Pikir: akal budi

Potret dari kedua macam orang ini dengan nyata dan jelas bisa kita saksikan di lingkungan sekitar hingga para wakil kita di Eksekutif, Legislatif maupun Yudikatif. Iya! 
https://www.pexels.com/@nuhrizqi
Berpikir tak berzikir maka jadinya korupsi. Selalu terpacu dengan kekuasaan dan kehartaan. Motivasinya bukan lagi mensejahterakan namun menyengsarakan. Inilah kondisi objektif hari ini.

Berzikir tak pernah berpikir maka jadinya mengkafirkan yang lain. Merasa dirinya paling benar dan menjadi barisan utama yang paling disayang Tuhan. Berzikir tak pernah berpikir, bisa pula dikontekskan pada pasrah. Misal, tak pernah mau peduli dengan politik. Padahal mau tak mau, peduli tak peduli, politik-lah yang menentukan hidupmu di sebuah negara. Mulai dari kebijakan pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) hingga ekspor-impor.

Kita coba kembali dahulu ke berpikir tak berzikir. Berapa banyak orang yang kita kenali dengan macam yang demikian? Mereka begitu bergeliat ketika membahas ini dan itu (uang dan kekuasaan). Orientasi hidupnya selalu saja materi. Maka tak heran bilamana hari ini, cara menggambarkan pahala dari Tuhan itu berupa materi pula. Dibayangkan sebuah hadiah berwujud yang kemudian bisa diambil ketika hari penimbangan amal.

https://www.pexels.com/@fancycrave

Mengutip perkataan Emha Ainun Najib, "Orang kaya itu adalah orang yang selalu bersyukur kepada Tuhannya. Orang kaya tak pernah mencari kekayaan, tak pernah mengejar. Orang yang mencari hingga mengejar kekayaan itulah yang sejatinya adalah orang miskin,".

Dalam berpikir saja, kita sudah dijajah. Kita mengalami yang kemudian aku sebut dengan penyamarataan persepsi. Rambut bagus ya ala Sunlilk. Kulit wajah yang sehat dan cantik ya ala Pond's. Usus sehat ya ala ... ? Namun bukan berarti langsung tidak membeli atau menggunakan semua produk-produk tersebut. Jelas itu mempersulit dirimu. Cukup sadar terlebih dahulu tentang penjajahan ini.

So apa hubungannya?

Apa sih yang kita cari dalam hidup ini? Betapa pendeknya waktu untuk bernapas di dunia ciptaan Tuhan ini. Apakah berpikir tak berzikir adalah cara yang benar bila kita coba sadari bahwasannya hidup ini begitu singkat. Menumpuk kekayaan hingga bertubi-tubi, apakah pula akan dibawa mati?

Berpikir tak berzikir bukanlah cara yang benar menjalani hidup ini. Kekuasaan yang sejatinya adalah amanah, begitu dahsyatnya apabila dimanfaatkan untuk benar-benar mensejahterakan. Berpikir tak berzikir hanya menimbulkan kebijakan tanpa arti. Hanya mewujudkan pembangunan tanpa guna.

Kedua, berzikir tak berpikir.

Apa jadinya, bila kita terus meminta namun tak pernah mau berusaha. Ya inilah berzikir tak pernah mau berpikir. Setiap hari ngondo terus, mengeluh terus. Tuhan bukanlah Dzat yang tak mengenali kita. Tuhan yang menciptakan kita, tuhan pula yang tahu onderdil pada diri kita. Mulai dari gigi hingga kuku kaki.

Tuhan tahu sampai mana hambanya harus berjuang dan berusaha. Jangan pikirkan Tuhan itu layaknya seorang petugas loket yang melayani antrian panjang satu persatu. Dalam satu waktu, tuhan mengurusi ratusan, ribuan, hingga hitungan yang tak terhitung hal yang Ia ciptakan. Betapa kuasanya Ia.

Tak acuh dengan keadaan politik, semisal. Juga ku rasa kurang tepat. Karena, benar saja, bahwa yang menentukan kehidupan bernegara adalah politik. Politik hakikatnya adalah cara memperoleh kekuasaan. Nggak kotor seperti prakteknya kan hakikatnya? Politik hanyalah sebuah cara. Yang kemudian membuat politik kotor adalah orang-orang yang berpraktek didalamnya.

Apalagi tak acuh dengan kondisi sekitar. Merasa paling benar, padahal saudaranya juga membutuhkan pencerahan. Di Indonesia, masalah perbedaan sudah selesai dimeja perumusan ideologi pancasila. Semua terayomi dalam pancasila. Lalu apalagi yang membuat kita ragu untuk menerapkan pancasila? Betapa eloknya masing-masing untaian prinsip disegenap butirnya.

Berzikir tak berpikir bukan karakter dan cerminan orang-orang Indonesia. Orang Indonesia adalah orang kuat, tak pernah menyerah pada setiap rintangan. Perbedaan adalah penguat disetiap sendi peradaban Indonesia.

Coba kita refleksikan dengan diri kita. Apakah kita seorang berpikir tak berzikir ataukah seorang berzikir tak berpikir? Jika ada salah satu dari dua macam tersebut, sudah seharusnya kita musnahkan. Pribadi yang berpikir dan berzikir adalah pribadi yang sangat diharapkan Indonesia. Bayangkan, betapa luar biasanya Indonesia, kita semua, bilamana pimimpin dan rakyatnya berpikir dan berdzikir.


عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa Radliallahu ‘anhu dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Permisalan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti orang yang hidup dengan yang mati.” (HR Bukhari 5928).

*)Terinspirasi ceramah Mahfud M. D. berpikir dan berzikir pada pembukaan Pesmaba UMM 2018.

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com