Friday, April 26, 2019

Tauladan yang Tinggal Tauladan


“Apa itu pahlawan?” tanya Pandji Pragiwaksono kepada para penonton di suatu kesempatan. “Bagi saya, memaknai pahlawan itu simpel. Mobil saya mogok tengah malam. Kemudian saya telepon teman saya dan temen saya nyamperin untuk membantu saya. Bagi saya dia adalah pahlawan, karena ia rela kehilangan kenyamanannya demi kenyamanan saya,” tuturnya. Itulah yang juga dilakukan pahlawan-pahlawan lainnya.

----------

Smartphone-ku panas. Xiaomi memang begitu, dipakai mengerjakan hal yang berat hampir selalu overhead. Bukan tanpa sebab. Berkali-kali ku telepon teman-temanku, tak diangkat jua.

Sibuk ku pikir. Sambil menunggu jeda waktu, ku geser room chat-ku ke kanan. Mengarah ke story. “Alamak! Update dia! Semenit lalu pula!” ungkapku seraya menahan jengkel.

Jempol tangan ku kerahkan untuk mengungkapkan segala “kemangkelan” ini. Seluruh isi selokan dan bak mandi ku keluarkan. Semenit kemudian, aku telah menyelesaikan dua paragraf ungkapanku.

Ku urungkan diri untuk mengirimnya. “Gak ngefek plus gak jelas,” kataku dalam hati.

Seandainya dulu, Bung Tomo memilih makan lontong balap daripada pidato di radio, tentu semangat para pejuang tak sehebat itu.

Seandainya Cut Nyak Dhien lebih memilih bersandar di kamar tidurnya agar sembuh sakitnya, tak akan mungkin perjuangan masa lalu akan terus berkobar.

Seandainya, Soekarno lebih memilih menjadi pandai sendiri saja tanpa mau membebaskan nasib saudara-saudaranya yang tertindas, tentu kita tak akan pernah merasakan merdeka.

Tauladan tinggalah tauladan. Terlalu lama sepertinya kita terbuai dalam timang-timang kenikmatan. Itulah mengapa, banyak membaca, banyak diskusi, banyak belajar tetapi karya satu pun tak punya.

Ilmunya lebih banyak digunakan untuk gengsi bahkan parahnya kalau dibuat ngibuli. Hanya memperkokoh statusnya saja sebagai orang yang berpendidikan. Efeknya? Nol!

Yaa Rahman. Aku bukanlah orang yang paling mulia. Aku hanya sebintik noda dalam luasnya semestamu.

Ilmu amaliyah, amal ilmiah. Tentu saja ini bukan sekedar jargon yang enak diucapkan karena selaras pelafalannya.

Lakoni itu!

Masalah itu pasti ada. Rasanya tak patut jika merasa paling sibuk dan paling mengerjakan banyak hal. Masalah itu pasti ada. Tapi bukan berarti meninggalkan apa yang sudah diamanahkan dan belajar tanpa mengamalkan.

Berproses itu nikmat. Jika dijalankan dengan tidak main-main. Namun memang berat, karena perlu dedikasi dan keseriusan yang tinggi. Ku pikir, semuanya bisa menjalani itu, bila mau.

Kejarlah akhirat, dunia akan mengikuti. Seriuslah berproses, kemampuan-kemampuan lainnya akan niscaya menghampiri. Buktikan.

Jangan sampai, tauladan tinggal tauladan. Bila demikian, pada akhirnya tak ada bedanya dengan museum. Ia hanya menjadi wahana wisata, bukan menjadi tempat merefleksikan diri. Padahal kita semua sebenarnya terlahir sebagai bibit mahluk yang bermanfaat untuk mahluk lainnya.

Man Rabbuka? Man Nabiyyuka?

Mari buktikan bersama-sama, bila kita bisa menjawab pertanyaan tersebut.

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com