-->

Januari 19, 2019

Wahai Diriku, Ini Surat Untukmu


Ku tuliskan surat ini untuk diriku yang sedang bersedih hati.

Wahai diriku, usaha-usaha yang telah kau lakukan, tentu saja tak semudah itu terwujudkan.
Setiap keringat dan kelapangan hati tidak selalu dibalas sesuai harapan.
Wujud dari kesungguhan diri tentu saja tak berbentuk konkret.

Wahai diriku, tiap detik jantung terus berdenyut.
Perjuangan tak semestinya berhenti dikala rintangan mengahadang.
Jika engkau berani berharap dan bermimpi, usaha adalah jalan satu-satunya untuk menggapai.

Wahai diriku, tak sepatutnya engkau terus-terusan berharap feedback baik dari segala hal yang telah engkau lakukan. Tiap waktu yang telah kau dedikasikan bukanlah hal yang mudah. Tak semua insan dapat melakukannya. Aku tahu kau marah, kau kecewa dan kau ingin meneteskan air mata sebanyak-banyaknya. Lakukan itu diriku, lakukan itu. Engkau seorang manusia yang difitrahkan untuk memiliki rasa sedih, maka nikmati itu. Bersedihlah.

Wahai diriku, kenyataan seringkali pahit. Aku tahu itu sejak kau duduk di bangku SD. Berpindah sekolah sana-sini mengikuti orangtuamu mencari sumber nafkah untuk dirimu. Aku tahu itu berat. Namun kau sanggup menjalaninya. Kau sanggup.

Cukup sajalah kekecewaanmu ini kau simpan baik-baik dalam diri. Kau jaga dengan ikhlas. Selama aku bersama denganmu, aku paham, kau bukanlah orang yang sabar. Kau manusia yang penuh dengan amarah. Namun, lagi-lagi kau mau belajar dengan sabar. Kau mau menjadi pribadi yang sabar dan tentu yang tak mengedepankan egomu.

Wahai diriku, Azza Wa Jalla menciptakan dirimu tentu tak begitu saja. Dahalu engkau telah berjanji pada-Nya, bersaksi bahwa Dia tuhanmu esa, dan Rasulullah SAW. sebagai utusan-Nya. Hal ini tentu mengisyaratkan bahwa dirimu adalah ruh pilihan. Engkau bukan sembarangan. Sang Rahman meniupkan ruh ke dalam ragamu dengan cinta nan kasih.

Kemudian engkau dititipkan kepada dua manusia yang sedang memadu kasih. Mereka bernama Choirul Helmi dan Umi Saadah. "Ku titipkan amanah padamu, ia hambaku yang kucintai seperti kalian berdua. Ajari ia mengenal-Ku, mengenal segal ciptaan-Ku dan kebesaran-Ku," kata Sang Malik.

Lalu, kedua manusia itu menyambutmu dengan hangat dan kasih sayang. Seraya berucap syukur tiada henti disetiap usahanya. Ketika engkau beranjak dewasa, Sang Wahid menitipkan amanah lagi kepada menusia yang telah menyambutmu dengan baik sebelumnya. Dinamakanlah seorang Zulfan Hibatullah Asya'bani. Allah hadirkan ia untuk engkau juga ajari dan tentu saja engkau kasihi. 

Wahai diriku, ketika engkau beranjak dewasa. Engkau telah banyak melakukan kesalahan dan dosa yang tak luput melibatkan kedua manusia yang terus mendoakanmu dimana pun kau berada. Engkau tak tahu berapa kali mereka meneteskan air mata untuk terus mengemban amanah mengenalkan dirimu pada-Nya. Kau campakkan itu, dulu.

Wahai diriku, usaha-usaha yang engkau lakukan belum seberat dan sebanding dengan kedua orang tuamu. Janganlah engkau bersedih. Kenyataan hidup memang seringkali pahit. Namun engkau harus sadar, bahwa setiap kebaikan yang engkau rasakan tak pernah lepas dari doa Ibumu. 

Wahai diriku, maafkan mereka yang telah melukai hatimu dengan apapun. Yang membuatmu kecewa. Yang bagimu mungkin telah mementahkan segala usahamu. Jalan masih panjang, jangan engkau cemari hatimu dengan iri, dengki dan dendam. Lakukan semua usaha hanya untuk Ridlo-Nya semata. Dunia titipan, tidak selamanya. Setiap usaha coba "deh" selalu engkau sandarkan pada-Nya.

Wahai diriku, memahamkan orang lain tentu bukan perkara mudah. Amar ma'ruf nahi munkar memanglah berat. Maka janganlah engkau lupa, karena yang dapat melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar adalah orang-orang yang beruntung. Beruntung tentu bukan milik semua orang. Maka, jika engkau termasuk di dalamnya, maka bersyukurlah.

Wahai diriku, kebaikan akan terus berjalan bersamamu. Selagi engkau kuat dan tangguh. Surat ini, aku kirimkan untukmu bukan untuk terus terjerembab dalam keterpurukan. Sang surya akan terbit esok. Harapanmu masih gemilang menantang. Datanglah! Hampirilah Sang Rahman wa Rahim. Sambut ia dengan sujud wajib fajar. Ingat Ia saat engkau berada ditengah hari. Ingat ia ketika engkau ada disaat menjelang terbenamnya surya. Ingat Ia saat engkau menemui langit menjadi emas dan setelahnya.

Muhammad. Nama itu terpatri di depan namamu. Ibumu tentu tak asal menyematkan nama itu. Muhammad, kata pencipta kita, adalah suri tauladan terbaik. Doa untuk menjadi pribadi seperti Muhammad SAW terus mengalir dari lubuk hari dan lisan Ibumu. Lalu apa yang membuatmu takut? Sang Rosyid memberimu napas, kenikmatan jalan dan melihat serta emuanya. Lalu apa yang membuatmu khawatir? Bukankah Sang Majid telah berfirman bahwa Ia selalu bersama dengan hamba-Nya?

Wahai diriku, dimana lagi engkau menemui Sang Kuasa yang bila dihampiri dengan berjalan, Ia akan berlari? Sang Kuasa mana yang akan memaafkan berjuta kesalahan dan mengembalikannya ke nol? Sang Kuasa mana yang akan memberikan kemerdekaan diri untuk memilih jalan terbaiknya dalam hidupnya?

Wahai diriku, selama ruh masih di ragamu. Janganlah engkau berputus asa. Penciptamu berharap kau tak berputus asa atas segala ujian yang Ia berikan. Ia sangat tahu dan kenal hambanya, bahwa hambanya dapat menyelesaikannya dengan baik. Kembalilah tersenyum menyambut setiap rezeki yang diberikannya. Rezeki lingkungan baik, rezeki dipertemukan orang-orang berhati lapang dan rezeki-rezeki lainnya.

Wahai diriku, kedua mutiara hidupmu telah menunggumu untuk dikembangkan senyumnya. Rabb-mu telah memanggilmu untuk datang dengan hati yang bergembira. Bumi yang kau pijak, adalah amanah yang mesti kau selesaikan. Jarum jam melaju, ia tak akan mundur sedetik pun. Maka apapun yang berlalu, biarkanlah berlalu. Kekecewaan pada akhirnya akan menjadi sebuah memori pahit yang boleh saja kau buka kapan pun untuk menjadi cermin dan pelajaran berharga.

Jangan bersedih hati, Surya bersinar setelah kita mengumandangkan kebesaran-Nya. Hatimu akan disinari setelah engkau melewati lorong kegelapan kekecewaan. Jalanmu masih panjang. Kau bisa melewati masa-masa ini. Aku tahu jelas rasanya! Karena aku yang selalu bersama dirimu. Aku juga tahu, kau punya sisi sabar yang sesungguhnya. 

Aku selalu ada untukmu, datang dan ceritalah. Aku akan setia mendengarkan setiap tutur katamu. Sekali lagi, kau adalah bagian dari umat yang dikhawatirkan Rasulullah, padahal ia belum pernah melihatmu, mengenalmu bahkan mencium aroma parfummu. Jangan bersedih dan berlajarlah berkorban seperti Rasulmu yang menyatakan kesiapan diri untuk diberikan seluruh rasa sakit sakaratul maut umatnya agar umatnya tak merasakan sakitnya sakaratul maut. Termasuk engkau. Sabar dan istiqomahlah dalam berproses menjadi akademisi yang berakhlak mulia kepada Rabbmu, keluargamu, sosialmu, alam dan seluruh amanah yang dititipkan kepadamu. :)

-Dirimu di lubuk hati yang terdalam 19 Januari 2019

0 komentar:

Posting Komentar

Kontak

Kantor:

Surabaya, Jawa Timur