Hai!

Aku Mirza Bareza Penulis Vlogger

Karya Business Inquiries

Skill

Kepenulisan
Video Editing
Photography
AKU

Mirza Bareza.

Penulis dan Vlogger

Jurnalistik adalah pintu yang mengantarkanku mengenal desain grafis, video editing dan segala hal tentang ilmu komunikasi. Dedikasi tersebut pun membuahkan gagasan Startup Open Online Courses bernama JadiJurnalis.com

Pengalaman sebagai Ketua Bidang Media dan Komunikasi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Renaissance FISIP UMM dan Reporter di Public Relation and Anything Regarding Protocol of UMM membawaku lebih dalam menjelajahi dan mencintai dunia kepenulisan.

Ragam Tulisan

Review

Review produk berbagai macam hal dan keperluan

Jumat Sharing

Topik-topik hangat dan berbagai hal yang barangkali bermanfaat

Monday Energy

Tulisan rutin tentang semangat menjalani hari Senin

Catatan Singkat

Catatan penggugah ghirah menggapai cita dan harapan

Karya

Pasca-Putusan MK, Waktu yang Pas Buat Kita Udahan


Saat membenci terasa nyaman. Saling menyakiti terlihat wajar, akan datang masa di mana kita hanya mampu berkeluh dan menyesal. Berharap doa dapat memutar waktu. Percayalah waktu masih tersisa. Percayalah hanya kita yang bisa beri nyawa segala harapan. |  Raisa - Nyawa dan Harapan
Barangkali lagu Raisa Bareza ini menjadi cermin bagi kita selama Pilpres ini. Katanya demokrasi, kok, berani bersuara dianggap mengganggu keamanan. Katanya bebas memilih, kok, menyatakan dukungan malah dimusuhi? Katanya islam, kok, isinya provokasi dan menghina dengan beribu macam kata kotor dan tak senonoh?

Kata Cak Nun dalam bukunya, Sedang Tuhan pun Cemburu, "Kita ini modern-intelektual, kok, nyatanya makin kewalahan dan makin bodoh dalam menjawab problem-problem..."(Pendakatan Remaja Terhadap Kultur Sosial Lingkungan (dari Seminar :Remaja Pranikah: hlm 164))

Sepanjang menjelang hingga setelah pemilihan 17 April lalu, di media sosial, kita bak burung bersahut-sahutan. Ngoceh terusss... Ada yang "menyamar" menjadi Intelektual, Ustadz hingga Cendekiawan.

Juga, selama ini kita terus-terusan saling mencurigai satu sama lain. Isi kepala kita hanya "jangan-jangan ...".


Kebiasaan Sembarangan yang Menggambarkan Sebuah Kemajuan atau Kemunduran


Di media sosial, kita dengan mudah melontarkan kata-kata yang tak jarang menyakitkan, entah sadar atau tidak. Media sosial bukan dunia maya :( Ia dunia nyata! Ini serius. Kebebasan itu tidak bebas sebebas-bebasnya. Ada batasan-batasan yang sering kali kita abaikan. Secara formil kita pun punya kebebasan yang dibatasi oleh UU ITE (Terlepas dari kontroversi UU ITE). Secara non-formal kita punya unggah-ungguh.

Sejauh ini, kita dengan mudah menghakimi seseorang tanpa paham-paham banget sebenarnya. Ya.. dalam setahun ini misalnya. Tinggal type dan tekan comment. Pandangan memang pandangan, bebas memang bebas. Namun apakah benar pandangan yang telah kita sampaikan?

Bukankah alat komunikasi semakin canggih? Namun nampaknya kita semakin mundur. Tidakkah alat komunikasi yang super pintar itu dapat membantu kita menggali beragam pengetahuan?

Kita egois hanya ingin eksis.

Pasca-putusan MK adalah momen kita kembali pada hakikat hidup kita bersama. Mau bertengkar tentang pilihan seperti apapun di pilpres lalu, tetangga tetaplah. Mereka orang terdekat yang akan siap siaga menggosip menolong kita. Mau ribut seperti apapun, pengedar sabu-sabu (sayur-sayuran buah-buahan) tetap jualan walau tiap hari diutangin. 

Bagi yang menang, ini amanah yang besar bagimu. Jangan semena-mena! Kamu hanya 5 tahun. Meminjam istilah Cak Nun, engkau hanya pegawai kontrak yang juga ditabarasi dua kali menjabat. Jangan buat rakyatmu susah, ingat, mereka yang memeras keringat demi buah hati dirumah dan masih harus melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara. Jangan elitis, engkau bekerja pada rakyat. Ojo mikire wetengmu ae.

Bagi yang kalah, ini adalah momen untuk menjadi pengawas berbagai kebijakan yang diberlakukan pemerintah yang terpilih. Jangan ngeyel. Ini sudah putusan tuhan juga. Tidak perlu bawa-bawa tuhan untuk membenarkan tindakan barbar-mu.

Bagimu pilar keempat demokrasi, Media Massa. Engkau menggunakan jalur milik hak rakyat. Sinyalmu hingga kabel-kabelmu di tanah, air dan udara rakyat. Maka berikan informasi yang benar. Berpihaklah pada rakyat. Jaga independesimu. Angkat berbagai kebenaran yang berusaha ditutup-tutupi penguasa. Kami percaya padamu.

Saatnya kita kembali sebagai manusia beradab. Manusia yang membawa manfaat dan tidak membuat takut lainnya. Menjadi manusia yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Bermanfaat tidak menunggu menjadi Ustadz, Kyai, Ketua RT, Gubernur, Youtuber Prank ataupun Presiden. Jabatan-jabatan itu akan tidak ada artinya bilamana kita dapat menjadi "teman" sesama manusia untuk menyelesaikan berbagai persoalan bersama.

Bagimu yang tertindas, pelototilah mata mahasiswa-mahasiswa itu! Tagihlah harapanmu pada mereka. Kau juga turut membayari kuliah mereka. Tagihlah itu supaya tak terbiasa memikirkan perutnya sendiri. Mintalah Perguruan Tinggi (PT) yang mengaku-ngaku terus menjunjung Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk mendidik dengan baik, bukan memanfaatkan mahasiswa atau bahkan menjadikan PT-nya bak industri. Tagih riset-risetnya untuk kebermanfaatanmu juga, agar tak melulu dipersembahkan kepada para kapitalis.

Sekali lagi, mari kita sudahi kebiasaan-kebiasaan menghina yang lama kelamaan menjadi nikmat, mungkin. Kita sudahi kebiasaan men-judge dengan sumber dan parameter "katanya".

Foto oleh: Dan Burton

Sudut Pandang [Monday Energy]


Dalam memandang sesuatu, kita seringkali absolut yang sebenarnya juga tidak benar-benar tahu. Seperti, kata susu yang tak jauh-jauh dari selangkanganisme. Apa ini merupakan hal yang selalu dikejar-kejar dan selalu menjadi pembahasan disetiap pembicaraan?

Jadi apa sebenarnya sushi susu itu? Kenapa jadi bias begini...

Tujuh hari dalam seminggu. Apakah ada hal baru yang telah kita lakukan bahkan temukan? Ataukah selalu muteeeer ae disitu-situ aja?

Lelah, malas hingga jenuh selalu saja menjangkiti. Yaaa mosok masalahnya itu-itu aja tiap menuju hari Senin? Itu masalah atau kebiasaan?

NB: Penulis bukan pendukung atau simpatisan iluminati. Foto itu memang mata sapi satu tapi punya gajah bukan lainnya.

Aku jadi ingat salah satu momen menggelikan. Aku turut dalam sebuah forum kajian keilmuan. Saat itu materi tentang pengantar filsafat.

"Apa yang ada dipikiranmu tentang filsafat?" Tanya pemateri pada seluruh peserta.

Ku kumpulkan seluruh tenaga, lalu ku ucapkan "SESAT!".

Jiwa militanku memberontak saat itu. Ngos-ngosan. Setelah ku jawab, pemateri itu hanya tersenyum kemudian menoleh dan mencari jawaban lain ke peserta berikutnya.

Dengan berjalannya waktu aku belajar. Perlahan-lahan aku memahami. Akhirnya pikiran tempurung ku yang beranggapan jika filsafat sesat itu pecah. Kenapa aku bisa bilang filsafat sesat?

Sebelum kuliah, aku sempat bermanin ke rumah seorang teman. Saat di kamarnya ia pun bercerita kalau dirinya dilarang kuliah sama orang tuanya. Ia mengatakan jika semua itu karena ia memilih jurusan filsafat. Orang tuanya tidak setuju. Bukan tambah pintar, pulang-pulang malah murtad.

Tanpa mencari-cari lagi, aku mengamini bahwa filsafat sesat. goblok~

Padahal, filsafat adalah induk semua ilmu. Yaa Allah. Untung aku udah sembuh.

Inilah yang menyebabkan banyak keributan. Entah langsung atau masif seperti di media sosial. Hampir selalu memperdebatkan berbagai hal yang sebenarnya tidak substantif. Itu karena cara pandang kita tidak luas.

Hal itu sama seperti saat kita melihat gajah. Dari depan, kita melihat belalai, mata dan gading lengkap dengan dua pasang telinganya. Teman kita dari belakang, melihat vantat dan buntut. Kemudian ketika bertemu, kita pun berdebat.

"Gajah itu punya belalai, mata, gading dan telinga,"

"Engga Cong! Gajah itu punya buntut dan vanthat,"

Begitu aja terus sampai Nobita ngisi kuliah tamu.

Senin esok adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika kebiasaan kita menyimpulkan berbagai hal hanya dari "katanya", tamatlah kita. Mungkin membaca atau bertanya pada yang mengerti bisa menjadi obatnya.

Mendengarkan "katanya" memang lebih mudah daripada harus bersusah payah mencari-mencari agar objektif. Tapi coba tanyakan pada dirimu, akan kah kita terus-terusan begini? Punya sudut pandang sempit yang dibiarkan terus menerus. Padahal, ada banyak sisi yang bisa menjadi sudut padang.

Mari berhenti menyimpulkan hal yang kadang kita tidak tahu. Mengira-ngira orang yang belum tentu seperti yang kita pikirkan. Atau menunggu-nunggu tanpa kepastian orang melakukan kesalahan.

Bacalah, diskusilah dan salah lah. Milikilah wawasan yang luas seluas samudra. Namun jika pengetahuan itu hanya untuk onani, ia tak lebih bermanfaat dari buih di lautan.
Foto oleh: Pexels.com 

Sistem Zonasi, Terima Kasih Ayah Ibu yang Sudah Memperjuangkan Kami


Sore itu kami sekeluarga wara-wiri kesana kemari. Adekku Zulfan akan masuk SMA. Untuk mempermudah pengurusan, ayah pun sudah membagi tugas masing-masing dari kami. Ibu, menghitung kemungkinan-kemungkinan kesempatan masuk di SMA mana saja, aku mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang sistem zonasi, ayah mempersiapkan dana dan adekku memperkuat mental dengan doa. Enak syekali~
Sistem zonasi saat itu menjadi sistem yang benar-benar baru bagi kami sekeluarga. Masa ayah, ibu hingga aku tidak demikian. Kami bebas memilih sekolah dimana pun kami mau. Namun, berbeda dengan adek. Ia harus bersekolah sesuai sistem zonasi atau bersekolah di sekitar tempat tinggal.

Katanya, sistem ini untuk menyamaratakan penyebaran siswa-siswi berprestasi di semua sekolah. Jadi, tidak ada lagi istilah sekolah terbaik, sekolah favorit dan lainnya.

Saat itu, pilihan sekolah adek tidak banyak. Pilihan utama memang di daerah tempat tinggal. Namun ada satu sekolah pilihan Zulfan yang membuat kami semua tertegun. "Aku pengen sekolah di luar daerah," katanya.

"Dimana?" sambut ibu.

"Terserah, pokoknya di luar Jember. Aku pengen punya pengalaman baru," jelasnya.

Ayah ibu belum memberi isyarat setuju. Mungkin, ayah ibu berpikir jika bersekolah di luar daerah, kesempatan diterimanya lebih kecil. Aku tahu betul mengapa adekku ini ingin bersekolah di luar daerah. Dugaanku, ia mencermati betul tiap cerita yang ku bawa dari Lamongan. Aku memang SMA di luar daerah. Panjang sekali ceritanya kenapa bisa begitu.

Aku selalu bercerita betapa enaknya sekolah di luar. Bisa menjadi diri sendiri, belajar mengurus diri hingga memulai kembali mengeksekusi berbagai keinginan. Aku yakin dia tertular.

Melihat keadaan ini, aku coba untuk meyakinkan ayah dan ibu. Ku sampaikan jika masing-masing dari kami punya mimpi sendiri-sendiri. Kami pun tahu apa yang ingin kami raih. Begitu pun dengan Zulfan. Ia punya ekspektasi ingin melatih kemampuan mengurus dirinya. Saat itu, tentu saja ayah ibu sudah membayangkan akan antre dengan orang tua lainnya. Untungnya, Zulfan tidak ingin sekolah di zonanya.

Akhirnya, ayah ibupun percaya dan sepakat.

Mulailah ibu menggunakan jurus jitunya. Ia menengadahkan tangan setelah tiga rakaat maghrib. Tampaknya ia meminta dengan cukup khusyuk.

Beberapa waktu kemudian, pengumuman penerimaan siswa baru tiba. Benar saja, adekku diterima di SMA 1 Nganjuk. Ini bukan SMA yang asing. Ibu lahir di kota ini, dan tentu alumni sekolah tersebut.

Setelah pengumuman itu, ibu berangkat menemani adek mendaftar ulang sekaligus silaturahmi pada Mbakyu-nya untuk menitipkan anaknya. Zulfan kemudian menjalani hari-hari dengan mengurus dirinya secara mandiri. Ia tak lagi diingatkan terus menerus. Pada akhirnya memaksa inisiatifnya untuk hidup.

Ia pun juga memaksa dirinya untuk mengenal lingkungannya. Berdamai dengan situasi yang barangkali tidak sesuai dengan kehendaknya. Dan tentu belajar berinteraksi dengan orang-orang di luar zona nyamannya.

Aku dan adekku memang satu kandungan. Namun kami tentu punya keinginan yang berbeda. Hal itulah yang "untungnya" ditoleransi oleh kedua orang tua kami. Ketika sistem zonasi sedang ramai menjadi perbincangan kembali, aku jadi teringat suasana mendaftarkan adekku dua tahun lalu.

Kini, kami berdua pulang ketika mendapat jatah libur rutin dari sekolah dan kampus. Selain itu jarang sekali kami pulang. Lebaran lalu, menjadi momen manis kami bersama selama satu minggu lebih. Ibu yang biasanya masak untuk berdua, akhirnya memasak untuk berempat. Ia mulai sibuk mengiris berbagai macam bahan masakan dan menyuruh anak-anaknya untuk melakukan ini itu.

Setelah kami pulang, ibu cerita jika ia bingung. Ia tiba-tiba merasa sepi sendiri. Ia kembali masak hanya untuk berdua dan tidak begitu sibuk kembali melakukan berbagai hal. 

Tentang Pilihan Orang Tua


Orang tua memang memiliki pengalaman yang lebih banyak dari pada anak-anaknya. Segalanya adalah empiris. Tidak semuanya benar dan bisa di-universal-kan. Rhenald Khasali, dalam bukunya yang berjudul Self Driving menjelaskan panjang lebar tentang memilih dan dipilihkan.

Ia menganalogikan sebuah burung yang dipelihara bertahun-tahun kemudian dilepaskan. Begitu burung itu dilepaskan, ia tidak dapat hidup dengan baik di alam nyatanya. Karena ia terbiasa diberi makan bukan mencari makan. Ia terbiasa menunggu makan, minum dan mandi dengan jadwal rutin.

Hal tersebut sama. Anak ketika tidak dilatih memilih dan bertanggung jawab sejak dini, ia akan terus-terusan menunggu pilihan yang menurut orang tuanya baik. Karena ia tak yakin pilihannya baik. Mulai dari fashion hingga potongan rambut.

Aku sering menemui teman-teman yang demikian. Tidak ingin melanjutkan organisasi karena di larang orang tua. Padahal ia tahu, jika ia perlu ilmu-ilmu dalam organisasi tersebut. Alasan tambahannya adalah tidak ingin durhaka dan melanggar larangan orang tua. Ia membiarkan dirinya larut dalam liang dogmatisme.

Padahal, ia yang tahu, ia yang akan menjalani hidupnya sendiri. Ia pun yang tahun apa yang ia butuhkan untuk dirinya.

Selain itu, ada juga yang rela mengambil jurusan pilihan orang tua karena ditakut-takuti tidak akan mendapatkan pekerjaan yang membawa "sukses" hingga tidak dibiayai kuliah.

Seandainya saja para orang tua mengerti apa yang diinginkan anak-anaknya. Baiknya, orang tua memberi palu keputusan kepada anak-anak untuk berlatih bertanggung jawab atas pilihannya, tidak akan ada yang namanya kebahagiaan versi orang tua lagi. 

Mungkin, bahagia bagi orang tua adalah menjadi pegawai atau PNS (ASN). Bagi anak sekarang, itu pekerjaan yang tidak seksi. Pilot sampai polisi bukan juga cita-cita favorit. Pilihan cita-cita semakin banyak sekarang. Mulai dari CEO, COO, UX, UI, Graphic Designer sampai Yochuber~

Bahagia bukan milik orang tua saja. Bahagia juga milik anak. Kemerdekaan memilih dan memilah adalah hal yang barangkali terpendam dalam diri anak yang terus menerus disimpan demi melegakan keinginan orang tuanya.

Sayang pada anak bukan berarti mengikatnya dalam mimpi-mimpi indah orang tua. Bahagia anak adalah bagaimana ia dapat bermanfaat bagi orang lain. Dapat menjadi pribadi yang baik dalam keluarga kecilnya dan ia sanggup menjadi pelopor berbagai perubahan kebaikan.

Terima kasih kepada ayah ibu yang terus memastikan kami baik-baik saja. Terima kasih atas kasih sayang engkau berdua. Namun, kami juga punya mimpi yang ingin kami ceritakan pada ayah ibu. We love you.

Photo by Brett Sayles from Pexels

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com