Friday, February 8, 2019

Tidak Saatnya Lagi Kita Begitu




Tiap dari kita punya posisi strategis dalam memandang sesuatu. Kanan, kiri, bawah hingga dalam. Itulah cara pandang. Lensa matamu menarik garis lurus yang mengisyarakatkan pada otak agar merekam. Bibirmu bergeming, suatu wujud nyata perlawanan dalam diri.

Siapa yang bisa menilai ini dan itu benar? Siapa yang bisa menghakimi ini salah, itu salah?

Sebagai fitrah, manusia memiliki welas asih (kasih sayang) pada apapun dan siapapun. Tentu kita "eman", bila harus kehilangan status yang sudah kita perjuangkan dan pertahankan. Keserakahan juga suatu bentuk welas asih, pada siapa? Pada diri sendiri. Lalu apa yang tidak welas asih? Pakaian, juga bentuk welas asih kita pada raga yang diberikan Sang Rahim kepada kita. Namun, jujur saja, kita sering berlebih-lebihan.

Kita ini lucu. Sibuk bersiteru pada hal yang tak menentu. Hingga memaksakan semua hal menjadi boleh untuk dilakukan. Padahal semua itu tak semestinya dilakukan seorang kita.

Pergolakan demi pergolakan membawa kita pada muara saling benci. Andai saja persaingan-persaingan di muka bumi dilakukan atas dasar fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Maka seperti yang disampaikan Haedar Nashir, yang menang akan merasa memikul amanah dan yang kalah lebih tuma'ninah. Betapa indahnya.

Ruang saling mencintai dan menghargai sesama manusia luar biasanya sejuknya, lalu mengapa kita lebih senang berada di ruang sesak penuh dengan hawa panas? Kepentingan apa yang ingin digapai?

Perbedaan harusnya membawa kita pada tahap penyadaran diri akan kebesaran Sang Rahman. Betapa hebatnya Ia dalam menciptakan beragam rupa dan isi kepala yang tak sama. Islam sebagai rahmat alam tentu seharusnya tak menempuh jalur-jalur kekerasan dalam mencapai yang katanya kedamaian. Manusia dianugrahi akal yang membedakan ia dengan mahluk lainnya.

Seandainya, tidak ada persaingan di muka bumi, bukankah kita akan stagnan? Tak ada kompetisi dan tak ada cara mengukur diri. Bukankah Sang Quddus telah menyatakan bahwa semua sama dihadapan-Nya.

Sudah saatnya memandang segala hal dengan luas. Kita hidup bersama dan berdampingan. Tidak semua yang bertato bertindak kriminal dan tidak semua yang berserban mengajak kepada-Nya. Juga tidak semua yang hijrah benar-benar hijrah. Sangat disayangkan bilamana hijrah kemudian dipersempit maknanya pada hal yang tampak saja.


Indonesia, Indonesia. Kita ini bukan bangsa yang kecil. Kita bangsa yang besar dengan segala usaha nan ikhtiar yang telah bersama-sama dilakukan. Menjelang satu abad Indonesia, tentu kita harus lebih matang dalam berpikir dan bertindak. Sebagai sebuah negara yang memiliki penduduk muslim terbesar pula, sudah pasti kita turut menjadi cerminan muslim dunia.

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com