Friday, June 21, 2019

Sistem Zonasi, Terima Kasih Ayah Ibu yang Sudah Memperjuangkan Kami

Sore itu kami sekeluarga wara-wiri kesana kemari. Adekku Zulfan akan masuk SMA. Untuk mempermudah pengurusan, ayah pun sudah membagi tugas masing-masing dari kami. Ibu, menghitung kemungkinan-kemungkinan kesempatan masuk di SMA mana saja, aku mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang sistem zonasi, ayah mempersiapkan dana dan adekku memperkuat mental dengan doa. Enak syekali~
Sistem zonasi saat itu menjadi sistem yang benar-benar baru bagi kami sekeluarga. Masa ayah, ibu hingga aku tidak demikian. Kami bebas memilih sekolah dimana pun kami mau. Namun, berbeda dengan adek. Ia harus bersekolah sesuai sistem zonasi atau bersekolah di sekitar tempat tinggal.

Katanya, sistem ini untuk menyamaratakan penyebaran siswa-siswi berprestasi di semua sekolah. Jadi, tidak ada lagi istilah sekolah terbaik, sekolah favorit dan lainnya.

Saat itu, pilihan sekolah adek tidak banyak. Pilihan utama memang di daerah tempat tinggal. Namun ada satu sekolah pilihan Zulfan yang membuat kami semua tertegun. "Aku pengen sekolah di luar daerah," katanya.

"Dimana?" sambut ibu.

"Terserah, pokoknya di luar Jember. Aku pengen punya pengalaman baru," jelasnya.

Ayah ibu belum memberi isyarat setuju. Mungkin, ayah ibu berpikir jika bersekolah di luar daerah, kesempatan diterimanya lebih kecil. Aku tahu betul mengapa adekku ini ingin bersekolah di luar daerah. Dugaanku, ia mencermati betul tiap cerita yang ku bawa dari Lamongan. Aku memang SMA di luar daerah. Panjang sekali ceritanya kenapa bisa begitu.

Aku selalu bercerita betapa enaknya sekolah di luar. Bisa menjadi diri sendiri, belajar mengurus diri hingga memulai kembali mengeksekusi berbagai keinginan. Aku yakin dia tertular.

Melihat keadaan ini, aku coba untuk meyakinkan ayah dan ibu. Ku sampaikan jika masing-masing dari kami punya mimpi sendiri-sendiri. Kami pun tahu apa yang ingin kami raih. Begitu pun dengan Zulfan. Ia punya ekspektasi ingin melatih kemampuan mengurus dirinya. Saat itu, tentu saja ayah ibu sudah membayangkan akan antre dengan orang tua lainnya. Untungnya, Zulfan tidak ingin sekolah di zonanya.

Akhirnya, ayah ibupun percaya dan sepakat.

Mulailah ibu menggunakan jurus jitunya. Ia menengadahkan tangan setelah tiga rakaat maghrib. Tampaknya ia meminta dengan cukup khusyuk.

Beberapa waktu kemudian, pengumuman penerimaan siswa baru tiba. Benar saja, adekku diterima di SMA 1 Nganjuk. Ini bukan SMA yang asing. Ibu lahir di kota ini, dan tentu alumni sekolah tersebut.

Setelah pengumuman itu, ibu berangkat menemani adek mendaftar ulang sekaligus silaturahmi pada Mbakyu-nya untuk menitipkan anaknya. Zulfan kemudian menjalani hari-hari dengan mengurus dirinya secara mandiri. Ia tak lagi diingatkan terus menerus. Pada akhirnya memaksa inisiatifnya untuk hidup.

Ia pun juga memaksa dirinya untuk mengenal lingkungannya. Berdamai dengan situasi yang barangkali tidak sesuai dengan kehendaknya. Dan tentu belajar berinteraksi dengan orang-orang di luar zona nyamannya.

Aku dan adekku memang satu kandungan. Namun kami tentu punya keinginan yang berbeda. Hal itulah yang "untungnya" ditoleransi oleh kedua orang tua kami. Ketika sistem zonasi sedang ramai menjadi perbincangan kembali, aku jadi teringat suasana mendaftarkan adekku dua tahun lalu.

Kini, kami berdua pulang ketika mendapat jatah libur rutin dari sekolah dan kampus. Selain itu jarang sekali kami pulang. Lebaran lalu, menjadi momen manis kami bersama selama satu minggu lebih. Ibu yang biasanya masak untuk berdua, akhirnya memasak untuk berempat. Ia mulai sibuk mengiris berbagai macam bahan masakan dan menyuruh anak-anaknya untuk melakukan ini itu.

Setelah kami pulang, ibu cerita jika ia bingung. Ia tiba-tiba merasa sepi sendiri. Ia kembali masak hanya untuk berdua dan tidak begitu sibuk kembali melakukan berbagai hal. 

Tentang Pilihan Orang Tua


Orang tua memang memiliki pengalaman yang lebih banyak dari pada anak-anaknya. Segalanya adalah empiris. Tidak semuanya benar dan bisa di-universal-kan. Rhenald Khasali, dalam bukunya yang berjudul Self Driving menjelaskan panjang lebar tentang memilih dan dipilihkan.

Ia menganalogikan sebuah burung yang dipelihara bertahun-tahun kemudian dilepaskan. Begitu burung itu dilepaskan, ia tidak dapat hidup dengan baik di alam nyatanya. Karena ia terbiasa diberi makan bukan mencari makan. Ia terbiasa menunggu makan, minum dan mandi dengan jadwal rutin.

Hal tersebut sama. Anak ketika tidak dilatih memilih dan bertanggung jawab sejak dini, ia akan terus-terusan menunggu pilihan yang menurut orang tuanya baik. Karena ia tak yakin pilihannya baik. Mulai dari fashion hingga potongan rambut.

Aku sering menemui teman-teman yang demikian. Tidak ingin melanjutkan organisasi karena di larang orang tua. Padahal ia tahu, jika ia perlu ilmu-ilmu dalam organisasi tersebut. Alasan tambahannya adalah tidak ingin durhaka dan melanggar larangan orang tua. Ia membiarkan dirinya larut dalam liang dogmatisme.

Padahal, ia yang tahu, ia yang akan menjalani hidupnya sendiri. Ia pun yang tahun apa yang ia butuhkan untuk dirinya.

Selain itu, ada juga yang rela mengambil jurusan pilihan orang tua karena ditakut-takuti tidak akan mendapatkan pekerjaan yang membawa "sukses" hingga tidak dibiayai kuliah.

Seandainya saja para orang tua mengerti apa yang diinginkan anak-anaknya. Baiknya, orang tua memberi palu keputusan kepada anak-anak untuk berlatih bertanggung jawab atas pilihannya, tidak akan ada yang namanya kebahagiaan versi orang tua lagi. 

Mungkin, bahagia bagi orang tua adalah menjadi pegawai atau PNS (ASN). Bagi anak sekarang, itu pekerjaan yang tidak seksi. Pilot sampai polisi bukan juga cita-cita favorit. Pilihan cita-cita semakin banyak sekarang. Mulai dari CEO, COO, UX, UI, Graphic Designer sampai Yochuber~

Bahagia bukan milik orang tua saja. Bahagia juga milik anak. Kemerdekaan memilih dan memilah adalah hal yang barangkali terpendam dalam diri anak yang terus menerus disimpan demi melegakan keinginan orang tuanya.

Sayang pada anak bukan berarti mengikatnya dalam mimpi-mimpi indah orang tua. Bahagia anak adalah bagaimana ia dapat bermanfaat bagi orang lain. Dapat menjadi pribadi yang baik dalam keluarga kecilnya dan ia sanggup menjadi pelopor berbagai perubahan kebaikan.

Terima kasih kepada ayah ibu yang terus memastikan kami baik-baik saja. Terima kasih atas kasih sayang engkau berdua. Namun, kami juga punya mimpi yang ingin kami ceritakan pada ayah ibu. We love you.

Photo by Brett Sayles from Pexels

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com