Sunday, June 23, 2019

Sudut Pandang [Monday Energy]

Dalam memandang sesuatu, kita seringkali absolut yang sebenarnya juga tidak benar-benar tahu. Seperti, kata susu yang tak jauh-jauh dari selangkanganisme. Apa ini merupakan hal yang selalu dikejar-kejar dan selalu menjadi pembahasan disetiap pembicaraan?

Jadi apa sebenarnya sushi susu itu? Kenapa jadi bias begini...

Tujuh hari dalam seminggu. Apakah ada hal baru yang telah kita lakukan bahkan temukan? Ataukah selalu muteeeer ae disitu-situ aja?

Lelah, malas hingga jenuh selalu saja menjangkiti. Yaaa mosok masalahnya itu-itu aja tiap menuju hari Senin? Itu masalah atau kebiasaan?

NB: Penulis bukan pendukung atau simpatisan iluminati. Foto itu memang mata sapi satu tapi punya gajah bukan lainnya.

Aku jadi ingat salah satu momen menggelikan. Aku turut dalam sebuah forum kajian keilmuan. Saat itu materi tentang pengantar filsafat.

"Apa yang ada dipikiranmu tentang filsafat?" Tanya pemateri pada seluruh peserta.

Ku kumpulkan seluruh tenaga, lalu ku ucapkan "SESAT!".

Jiwa militanku memberontak saat itu. Ngos-ngosan. Setelah ku jawab, pemateri itu hanya tersenyum kemudian menoleh dan mencari jawaban lain ke peserta berikutnya.

Dengan berjalannya waktu aku belajar. Perlahan-lahan aku memahami. Akhirnya pikiran tempurung ku yang beranggapan jika filsafat sesat itu pecah. Kenapa aku bisa bilang filsafat sesat?

Sebelum kuliah, aku sempat bermanin ke rumah seorang teman. Saat di kamarnya ia pun bercerita kalau dirinya dilarang kuliah sama orang tuanya. Ia mengatakan jika semua itu karena ia memilih jurusan filsafat. Orang tuanya tidak setuju. Bukan tambah pintar, pulang-pulang malah murtad.

Tanpa mencari-cari lagi, aku mengamini bahwa filsafat sesat. goblok~

Padahal, filsafat adalah induk semua ilmu. Yaa Allah. Untung aku udah sembuh.

Inilah yang menyebabkan banyak keributan. Entah langsung atau masif seperti di media sosial. Hampir selalu memperdebatkan berbagai hal yang sebenarnya tidak substantif. Itu karena cara pandang kita tidak luas.

Hal itu sama seperti saat kita melihat gajah. Dari depan, kita melihat belalai, mata dan gading lengkap dengan dua pasang telinganya. Teman kita dari belakang, melihat vantat dan buntut. Kemudian ketika bertemu, kita pun berdebat.

"Gajah itu punya belalai, mata, gading dan telinga,"

"Engga Cong! Gajah itu punya buntut dan vanthat,"

Begitu aja terus sampai Nobita ngisi kuliah tamu.

Senin esok adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika kebiasaan kita menyimpulkan berbagai hal hanya dari "katanya", tamatlah kita. Mungkin membaca atau bertanya pada yang mengerti bisa menjadi obatnya.

Mendengarkan "katanya" memang lebih mudah daripada harus bersusah payah mencari-mencari agar objektif. Tapi coba tanyakan pada dirimu, akan kah kita terus-terusan begini? Punya sudut pandang sempit yang dibiarkan terus menerus. Padahal, ada banyak sisi yang bisa menjadi sudut padang.

Mari berhenti menyimpulkan hal yang kadang kita tidak tahu. Mengira-ngira orang yang belum tentu seperti yang kita pikirkan. Atau menunggu-nunggu tanpa kepastian orang melakukan kesalahan.

Bacalah, diskusilah dan salah lah. Milikilah wawasan yang luas seluas samudra. Namun jika pengetahuan itu hanya untuk onani, ia tak lebih bermanfaat dari buih di lautan.
Foto oleh: Pexels.com 

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com