-->

Thursday, January 2, 2020

Bukan Cuma Kamu yang Pernah Kebingungan Cari Sandal Hilang, Orang-orang Abad Pertengahan Juga

Belum lima belas menit duduk nimbrung sebuah diskusi, tiba-tiba ada teriakan dengan suara yang melengking, “Kak, sandalku mana? Rek siapa yang tahu sandalku,” tutur seorang Immawati. “Mati kon, sandal maneh,” gerutuku.

Hilangnya sandal sudah menjadi misteri tersendiri di komisariat. Mulai dari sandal hijau lumut kebanggaan Indonesia, Swallow hingga sandal gunung Fiersa Besari, Eiger. Tak pandang bulu, mulai dari tamu sampai senior, semuanya pernah mengalami ini. Entah kemana larinya sandal-sandal tersebut.

Mungkin Gladys West suatu saat nanti bisa menginovasi sandal ber-GPS supaya para hamba yang kehilangan sandal bisa segera menge-chek melalui aplikasi.

Terkait misteri hilangnya sandal ini, ada dua kubu yang masih terus berdebat. Satu sepakat sandal milik bersama, satunya tak sepakat karena segalanya tetap milik pribadi dan mesti izin untuk menggunakannya.

Ketika memutuskan diri menjadi bagian dari komisariat, tentu saja banyak hal yang akan menjadi milik bersama. Mulai dari sabun mandi hingga uang bulanan kendaraan. Terdengar ekstrem memang. Namun bagi yang tinggal di komisariat, ini adalah hal yang biasa. 

Di sisi lain, hal ini saling menguntungkan. Bagi mereka yang tak memiliki kendaraan, akan dijemput atau bisa nebeng kemana-mana untuk berbagai urusan.  

Saat ini, sedang ramai konsep tinggal secara communal atau Co-Living. Seperti yang dibahas theatlantic.com dalam artikelnya yang berjudul The Hot New Millennial Housing Trend Is a Repeat of the Middle Ages, sebut saja, konsep ini ialah layanan berbagi kendaraan, pakaian bahkan rumah. 

Ini adalah konsep yang pernah terkenal pada abad pertengahan. Sebelum terkenal lagi di kalangan Millenial, Co-Living sudah menjadi bagian inti berjalannya IMM Renaissance FISIP UMM. Bukan hanya berbagi berbagai hal. Konsep komisariat tentu tidak sama dengan sekretariat atau kantor yang hanya berguna untuk rapat serta berkumpul. 

Komisariat menjadi wadah pengembangan diri sepenuhnya. Bisa rapat, makan bersama, hingga kajian. Masalah biaya? Tentu ditanggung bersama. Mulai dari biaya diri hingga biaya tinggal, mayoritas ditanggung bersama-sama. Bayangkan saja, kontrakan satu lantai tiga kamar seharga 16 juta tiap orangnya hanya  membayar 2 juta.

Tentu saja, ditanggung oleh 8 orang yang bersedia tinggal. Ini terhitung sangat murah dibandingkan kos sendiri yang bisa mencapai 4 juta. Belum lagi ditambah patungan dari Badan Pimpinan Harian (BPH) melalui koordinasi Bendahara Umum. 

Tempat yang biasanya ditinggali oleh “sebagian” besar pimpinan, kader baru dan demisioner ini adalah konsep yang sangat ideal untuk menekan pembiayaan hidup dan pendidikan di kota sebesar Malang. Selain itu, komisariat juga menjadi tempat ideal para mahasiswa yang ingin menjadi sekedar mahasiswa. Artinya, menjadi lebih baik bukan hanya baik. 

Dengan tinggal di komisariat, kita akan terbiasa dengan lingkungan yang sesak dengan diskusi, belajar dan belajar. Beragam hal yang dipelajari, mulai dari organisasi, filsafat, media, perkaderan dan hal-hal yang ingin dipelajari sendiri secara berkelompok.

Kembali kepada persandalan duniawi. Ketika sebagian besar barang menjadi milik bersama, tentu saja tetap ada hal-hal pribadi yang tidak bisa diganggu gugat. Misal sempa* dan sikat gigi. Ini tentu tetap menjadi barang pribadi, masa iya mau gantian~

Karena digunakan bersama-sama, maka ada berbagai resiko yang dihadapi. Apa saja? Salah satunya, rusak lebih cepat. Ini sering terjadi karena intensitas penggunaan barang yang sangat sering digunakan. Ngeselin sih pasti ya. Tapi, apa nggak pengen punya amal jariyah hasil kita mengikhlaskan berbagai barang yang bisa digunakan bersama-sama.

Bukan berarti membenarkan perilaku yang demikian. Tentu saja lebih baik jika saling menjaga agar barang-barang yang kita miliki awet muda tanpa menggunakan Pond’s Age Miracle. Mari saling membantu dan menjaga. Begitu kira-kira, saya mau beli sampo kucing dulu~

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com