Wednesday, December 25, 2019

Pasca Pimpinan Nyatanya Lebih Berat, Seriuslah Jika Masih di Dalamnya

Beberapa bulan pasca menjadi pimpinan komisariat, aku masih agak kagok. Bagaimana tidak, biasanya selesai rapat jam 4-5 subuh, sekarang bisa tidur pulas mulai jam 10 malam. Belum lagi, jadwal kumpul dan ketemu orang yang begitu padat, pasca pimpinan semua itu berubah total.

Benar, saat menjalani itu semua, aku ingin semuanya segera selesai. Ingin semuanya cepat rampung dan menggelar musyawarah pertanggungjawaban pimpinan. Bagaimana tidak, sungguh lelah menjadi pimpinan. Harus mendengarkan sana sini, harus memikirkan kemaslahatan seluruh orang, belum lagi mengorbankan berbagai hal yang mungkin kita anggap sangat berharga.

Belum berproses di komisariat, aku begitu enggan keluar kamar. Karena ku pikir, kamar adalah surga terbaik di dunia. Aku bisa berkarya semauku, kapanpun dan bagaimanapun. Namun ini pola pikir ini berubah sejak berkomitmen menjadi pimpinan di komisariat.

Sungguh lelah memang. Waktu dan tenaga terkuras habis. Belum lagi otak diperas untuk kreatif dan berpikir visioner.

Dulu, saat melihat para demisioner, aku iri. Mereka santai dan rasanya tinggal memberi masukan. Enak sekali, tidak perlu rapat dan ikut ngonsep hingga subuh. Namun ini semua salah.

Setelah selesai menjadi pimipinan, keinginanku untuk buru-buru selesai benar-benar aku sesali. Banyak kenikmatan yang ku lewatkan dan tentu saja tak ku sadari. Semua proses yang ku lalui seperti angin, sekelebat.

Ini tentu menjadi penyesalan besar. Sekarang aku iri pada teman-teman berprosesku yang matang dalam berpikir dan bertindak. Mereka lebih mapan dalam melakukan berbagai hal. Kalau orang jawa bilang, "Wes jejeg,".

Dulu pula, sering ku dengar jika komisariat adalah laboratorium terbaik dibandingkan milik universitas. Apalagi bagi mereka yang punya fokus ilmu sosial dan politik.

Seandainya saja, dulu aku punya kesadaran yang baik untuk merampas semua ilmu di komisariat.

Mau tidak mau, aku saat ini telah menjadi demisioner. Terima tidak terima, aku ini demisioner. Nyatanya, menjadi demisioner tak semudah yang ku lihat dulu. 

Ku kira, para demisioner tinggal datang ke agenda, memberi masukan, kritik dan tinggal jadi pemateri. Nyatanya tidak demikian. Lebih dari semua itu! Dan tentu saja, sangat berbeda dengan ekspektasiku.

Semua kader ingin menjadi demisioner yang baik saat tiba waktunya. Namun tidak semuanya punya komitmen untuk terus memikirkan atau mendampingi adik-adik yang melanjutkan diri sebagai pimpinan.

Ini tentu menjadi momen yang berat. Beban yang begitu berat ini, harus dipikul oleh beberapa orang saja, padahal dulu banyak orang yang mau dan rela memikul. Namun tak apa, itu pilihan hidup. Bagiku, menjadi demisioner bukan sekedar titel. Bukan sekedar sebutan. Ada sebuah tanggung jawab besar di baliknya.

Yang dulu ku pikir menjadi demisioner itu santai, nyatanya tidak. Tiap menit, jam, hari dan bulan, aku terus kepikiran komisariat. Apa dan bagaimana komisariat bisa lebih maju dan semakin mewadahi. Inilah salah satu tanggung jawab moral yang mendarah daging

Tak dipungkiri, banyak pula demisioner yang memilih minggir pasca menjadi pimpinan. Merasa tugasnya telah usai, membawa sedemikian banyak ilmu tanpa ingat dimana ia mendapatkan banyak ilmu itu.

Bagi para pimpinan yang hari ini masih menjabat, di barisan kalian tentu ada beberapa orang yang mencoba untuk menjauh perlahan-lahan. Masing-masing yang bertanggung jawab atas pimpinan tersebut biasanya akan berasalan, "Anak itu baik dan bagus kok kalau diberi tanggung jawab,". Paham?

Dengarkan ini, amanah sebagai pimpinan adalah tanggung jawab. Tak perlu menunggu imbuhan tanggung jawab yang "kasat mata" baru kemudian disebut bagus dalam menjalankan peran diri sebagai pimpinan. Ia akan dimintai pertanggung jawaban dunia akhirat nanti.

Bagimu yang mencoba lari dari tanggung jawab, bolehlah engkau merasa bebas hari ini. Menjauh dan mengingkari ikrarmu sebagai seorang pimpinan bukanlah pilihan yang tepat. Jika sudah atau sedang kau lakukan, perbaikilah. Jangan sampai menyesal sepertiku.

Ingat, umat telah menunggu berbagai terobosan terbaikmu di masa depan. Banyak orang tak berkesempatan kuliah menunggu manfaatmu di esok hari. Jangan hanguskan harapan mereka karena hanya keegoanmu untuk mengurus tugas yang menumpuk. Ia menumpuk karena kau tak punya komitmen untuk menyelesaikannya.

Aturlah waktumu, kau sudah cukup dewasa untuk dibimbing tentang ini. Keduanya penting bagi dirimu. Jika kau pilih tugas saja, engkau akan menjadi orang yang tak mandiri. Jika engkau mengimbangkan keduanya tentu saja engkau akan jadi orang mandiri. Ini bukan jaminan, namun keniscayaan tentang berproses. Amal baik akan dibalas baik oleh-Nya.

Aku dan mereka punya baik dan buruk. Jangan diulangi apa yang salah. Lanjutkan yang baik, bila berkenan.

Jangan menggantungkan mimpimu pada kampus. Nama kampus hanya sekedar nama, jika engkau tak mampu bersaing, tentu akan mati cepat atau lambat. Engkau harus tentukan nasibmu sendiri. Jadilah driver bukan passenger. Kampus ibarat terminal, masing-masing kita diberi pilihan. Ingin menumpang atau mengendarai. Tersedia puluhan armada berbentuk prodi dan fakultas untuk menuju berbagai tujuan yang kita inginkan. Jika engkau memilih menjadi passenger, engkau tak akan peduli si driver lewat mana, asalkan sampai.

Ini terjadi pada engkau yang hanya nggetu tugas ae. Padahal engkau punya tanggung jawab pula sebagai pimpinan. Jadilah driver, engkau akan memilih berbagai jalan agar sampai pada tujuanmu. Bila jalan A macet, engkau bisa pilih jalan B hingga Z. Engkau akan tahu dan berpikir, lewat serta bagaimana agar dapat sampai ke tujuan.

Jangan ulangi kesalahanku sebagai seorang pimpinan yang tak serius berpraktek, dulu. Mungkin aku terlihat sering jengkel dan marah, aku atau kami hanya ingin engkau tak sesat di jalan serta masuk ke lubang kesalahan yang sama seperti kami.

Terkadang, saat engkau diam dan tak ingin berbagi cerita tentang apa yang kau alami, dalam hati, kami bersedih. Kami ingin tahu, keseruan apa yang telah kau alami. Rintangan apa yang membuatmu selalu bersedih hati dan hal apa yang membuatmu begitu lazy untuk bergerak, semisal.

Ku tahu semua ini kembali pada Tuhan. Kami hanya berusaha mengingatkanmu, hanya Tuhan dan dirimu yang tahu engkau akan berubah atau tidak. Mudah-mudahan akan terus menjadi lebih baik. Bersemangatlah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, meraih kebermanfaat sesama manusia kini dan nanti~

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com