Ternyata Soal Ikhlas Aku Amatir
Nampaknya lagu ini memang menggambarkan apa yang telah lalui. Aku tak tahu mengapa lagu ini mewakili sekali. Banyak harapan dan keadaan yang sangat tidak mungkin aku ceritakan pada Ibu saat itu.
Sebelumnya, ibu bertarung hebat 2 tahun dengan cancer. Dulu ibu nggak tau kalau itu cancer. Ibu memang tidak menghendaki untuk periksa ke dokter. Aku tahu alasan sebenarnya. Keperluan pendidikanku dan Yufa jauh lebih diprioritaskan ibu. Bahkan untuk hidup berdua dengan Ayah mereka jauh dari kata cukup.
Beberapa bulan awal setelah aku bekerja, di satu momen ibu mengeluhkan sakit di payudaranya. “Ibu ayo ndang ke Dokter. Periksa. Insyallah itu bukan apa-apa. Benjolan biasa,” kataku sambil tambah angin ban. “Ini bukan benjolan biasa Le, arahnya lebih jauh dari itu. Ibu lihat di YouTube,” balas Ibu. “Nggak usah dipikirkan terlau jauh, periksa dulu aja,” jawabku sambil mengira bahwa orang seusia ibuku memang gampang kena hoax dan miss informasi lainnya. Tak menjawab, sekitar 10 detik ibuku terdiam. “Bu?” Aku memastikan. “Hmmmmm, iya Le lihat nanti,” Ibu menarik bapas panjang dan mengiyakan namun tetap terasa berat.
“BPJS, aku lunasi ya Bu. Tiga perempat gajiku langsung buat lunasi utang BPJS kita sekeluarga,” kataku. “Iya Le. Ibu perlu siap mental,” kata Ibuku lagi. Padahal situasi di sini juga sedang sulit sekali. Aku sedang menabung untuk menikah yang waktunya saat itu juga sangat dekat.
Singkat cerita, Ibu periksa dan benar saja apa yang dikiranya. Ibu Cancer. Payudara perlu segera diangkat karena benjolannya berbahaya. Aku tetap berusaha tenang karena aku yakin ibuku akan segera membaik setelahnya.
Pada proses pengangkatan itupun aku memutuskan untuk tidak pulang. Bagi sebagian orang sekitarku, aku telah dianggap “durhaka”. Yang sedang kualami saat itu, penyesuaian diri di tempat kerja dan apa yag sedang kukerjakan sedang dalam situasi yag sulit. Aku hanya menyampaikan jika aku belum bisa izin tidak masuk karena masih masa probation 3 bulan dan performaku masih terus diawasi. Walaupun mungkin bisa tapi memilih untuk tidak izin tidak masuk dulu. Mengingat, ini satu-satunya tempat kerja yang mau menerimaku setelah puluhan perusahaan yang ku lamar. Maklum, mungkin karena aku menghabiskan masa kuliah 6,5 tahun. Lagi-lagi masalah umur.
Tempat kerja lambat laun bisa memiliki kondisi yang baik. Aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan baik. Beberapa kali aku tak sanggup menahan kesedihan karena jauh dari ibuku. Bukan, ini bukan tentang cengeng. Tapi ini tentang bagaimana aku diperlakukan. Desas-desus dan bahasa saat meneleponku seperti aku tak peduli lagi dengan keluarga. Tak jarang aku menangis sendiri. Sekali lagi sendiri. Tak ada tempat yang bisa aku gunakan untuk bercerita. Karena, ku pikir kesedihan ini tak perlu ada yang tahu. Biar pil pahit ini ku telan sendiri.
Dalam keyakinanku, aku percaya jika ibu tak pernah menganggapku demikian. Aku percaya itu. Hanya dia yang percaya. Hanya dia.
Dalam keadaan Ibu yang semakin kritis di 2024, aku pun masih terpuruk karena satu dan lain hal. Pendapatan masih belum cukup untuk berbagi atau sekadar datang menjenguk. Tapi pesan yang ditangkap oleh Ayahku dan keluarga besar nampaknya berbeda. Seolah aku sudah tak sudi lagi kembali kepada mereka. Aku meyakini ini dari bahasa dan intonasi. Walupun semua ini belum dapat dipastikan.
22 Februari 2024. Ibuku berpulang di RSUD Malang. Aku tidak ditempat saat ia pergi. Itu hanya berselang 3 hari setelah aku menjenguk Ibu sebelum dirujuk dari RS di Banyuwangi. Aku diperjalanan menuju kantor dan sama sekali tidak melihat handphone. Tentu saja, perasaan khawatirku nggak bisa disembunyikan karena ibu dalam kondisi yang kritis, tapi aku nggak bisa izin lama dari pekerjaanku. Ini situasi yang sulit.
Benar saja, setelah aku sampai di kantor, baru sampai ruangan teman-temanku memintaku untuk segera cek handphone karena beberapa waktu lalu istriku menelepon dan tidak ku angkat.
Perasaanku sudah tidak enak. Ku lihat, kabar ibu berpulang dari adikku. Aku benar-benar merasa "Manusia ini kehilanganmu" seperti yang ada dalam lirik lagu Sesi Potret.
Segera aku menempuh perjalanan ke Malang. Dalam bis, pikiranku kacau. Dunia terasa berhenti. Bernapas tapi rasanya tak bernapas. Bis ini berjalan tapi rasanya berhenti. Hanya ada aku dan penyesalanku. Ku salahkan semua! Pekerjaan, waktu, anggapan, uang dan semuanya! Aku benci semuanya dalam satu waktu. Semuanya aku benci.
Sesampainya di lokasi, berkumpul beberapa saudara yang turut serta menemani kondisi kritis ibuku. Mereka menyambut dengan senyum. Namun, aku tahu betul dibalik senyumnya tersimpan rasa kecewa besar padaku. Rasanya, semua mata tertuju padaku. Yang ku rasakan saat itu adalah AKU PEMBUNUH IBUKU SENDIRI.
Satu tahun aku merasakan itu. Hal ini didukung oleh blaming dari semua keluarga besarku. Terutama Ayahku yang cerita sana-sini tentang kondisi awal hingga kritis ibuku. Tentu saja juga mencerita peranku dari sudut pandangnya. Semua ini juga telah dikonfirmasi oleh adikku sendiri. Oh ya, adikku juga salah satu orang yang ku beri tahu sedikit tentang apa yang ku alami dan rasakan. Tapi aku hanya memberikan sedikit. Karena aku tak ingin dibilang mencari pembelaan. Biarkan ini menjadi ceritaku sendiri dan ku abadikan dalam blogku sebagai potretku.
Sejujurnya, aku mulai sembuh dari rasa menyalahkan diriku atas kematian ibuku. Semua ini karena permintaan istriku. Ia berkali-kali memintaku untuk selesai menyalahkan diriku sendiri. Perlahan-lahan aku mulai membaik. Tapi ini belum benar-benar semnuh. Luka ini terus menjadi basa setiap kali aku pulang. Rumah yang dulu hangat, kini dingin. Orang yang selalu excited saat aku pulang telah berpulang. Orang yang punya harapan besar padaku juga telah pergi.
Aku bingung, rumah ini tetap sama, bangunan tetap sama, tata letak tak ada yang berubah, tapi sesuatu yang besar telah hilang. Orang yang dulu selalu menjadi garda terdepan dalam mengayomi dan melindungi kini telah berpulang. Sekali lagi aku benar=benar KEHILANGANMU, Bu.
Setelah menjadi bapak, aku paham. Paham bagaimana arti perjuangan dan pengorbanan orangtua untuk anaknya. Aku akan selalu usahakan memberikan kasih sayang yang cukup pada anakku sebagaimana hak yang telah ia miliki. Kasih dan cinta yang Allah wakilkan padaku dan istriku untuk anakku sejatinya adalah anugerah yang indah. Akan ku jaga perasaannya dari praduga-praduga yang tak pantas dan jahat. Aku sangat yakin, kasih sayang yang kami berikan dan ajarkan akan bertumbuh menjadi cinta yang juga akan berbalik ia berikan pada kami kelak.
Sedewasa apapun kita, kita adalah anak dari Ibu kita. Sejantan apapun saya, saya adalah anak yang rindu "didulang" (disuapi) ibu, dipeluk dan ditenangkan ketika menghadapi masalah.

0 comments:
Posting Komentar