Tuesday, August 28, 2018

Lelah (yang) Lumrah
Keinginan kuat itu tumbuh dari sebuah mimpi besar yang terjaga dengan usaha. Barangkali kita bukan satu-satunya yang memiliki mimpi seperti apa yang ingin kita gapai. Ribuan bahkan jutaan orang juga barangkali memiliki mimpi yang sama.

Semua orang punya hak yang sama untuk menginginkan dan menggapai sesuatu di hidupnya. Lalu apa yang membedakan seorang pemimpi dan pemimpin? Inilah ceritaku yang selama hampir sembilan tahun tak pernah absen mengikuti organisasi.



Semua berawal ketika aku masih duduk di kelas tujuh Sekolah Menengah Pertama (SMP). Menjadi siswa baru, aku dihadapkan dengan beberapa pilihan ekstrakurikuler. Begitu banyak macam rupa-rupa ekstrakurikuler. Ku jatuhkan pilihanku kepada ekstrakurikuler Jurnalistik, namanya Keris Sena. Produknya berupa majalah yang terbit setiap tiga bulan.

Perkenalanku dengan organisasi dimulai dari ektrakurikuler ini. Disinilah aku mulai mengenal yang namanya bekerjasama dan rapat. Pada semester kedua aku mencoba mendaftarkan diri sebagai anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Jujur saja, aku tak pernah tahu OSIS ini melakukan apa saja. Pada saat itu yang ku tahu OSIS itu mengurusi Masa Orientasi Siswa (MOS).

Di semester kedua ini aku mengikuti dua organisasi. Masih tak puas, aku mengikuti organisasi lagi bernama Palang Merah Remaja (PMR). Lagi-lagi aku tak tahu PMR ini akan melakukan apa dan aku hanya bermodalkan semangat tanpa tahu apa yang akan dikerjakan. Ditambah lagi, dipertengahan kelas delapan aku masuk ke dalam sebuah band yang punya orientasi sangat serius. Saat itu saja sudah masuk ke dapur rekaman.

Selepas SMP, aku memilih Madrasah Aliyah (MA) menjadi tempatku berproses. Pada tahun pertama saja aku sudah mengikuti dua oraganisasi, yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). Aku mulai mengetahui tujuan mengikuti sebuah organisasi. Di IPM aku belajar mengenal yang namanya administrasi organisasi, membuat sebuah program kerja dan mengorganisir massa (dalam skala yang tidak terlalu besar).

Di tahun kedua bersekolah di MA, aku merasa kurang adanya wahana yang bisa menampung hobiku, menulis. Aku dan beberapa teman kolektivku mencoba menghidupkan kembali buletin yang pernah jaya. Rencana ini kemudian didengar oleh seorang guru baru yang belakangan kami tahu kalau beliau dulunya adalah editor di Publishing Bentang Pustaka. Namanya Mastuhah Hamid. Kami kemudian akrab memanggil beliau Bu Maf.

"Dari pada buat buletin, sekalian aja buat majalah," begitu ajaknya. 

Tentu ajakan ini membuat kami terkejoet dan tentu senang! Akhirnya kami "audiensi" dengan kepala sekolah. Tak disangka, kepala sekolah pun merestui. Segera kami merumuskan nama dan struktural. Dalam satu bulan kami sudah mengerjakan beberapa halaman-halaman utama majalah. Hari-hari berikutnya kami juga habiskan untuk meng-upgrade diri terkait kejurnalistikan bersama Bu Maf. Oh iya, akhirnya kami menemukan nama majalah yang pas. Namanya Karismamda.

Majalah ini menjadi sebuah tonggak kebanggaan aku dan teman-teman kolektivku. Setidaknya kami bisa ikut sedikit berkontribusi bagi sekolah dengan hal yang kami suka.

-------

Setelah MA, aku memutuskan melanjutkan kuliah di Malang. Jurusan yang aku ambil berdasarkan hal yang ku suka. Tentu berhubungan dengan kerja-kerja jurnalistik, jurusan Ilmu Komunikasi. Selain alasan mendapatkan beasiswa kuliah, aku juga memang sangat excited bisa melanjutkan pendidikan tinggi di Ilmu Komunikasi Jas Merah Kampus Putih ini.



Bagiku, kuliah saja tidak cukup. Perlu kiranya mengikuti kegiatan-kegiatan diluar jam-jam wajib kuliah. Aku jatuhkan hatiku di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Bestari (sebuah lembaga media milik kampus). Diluar itupun aku masih ikut berbagai macam kegiatan.

Banyak sekali yang bertanya sampai ada juga yang mencegah.

"Kamu gak capek?" "Tidur kurang itu jelek buat kesehatan," "Kau gak bisa maksimal kalau ikut banyak kegiatan," "Aktivis pasti kuliahnya gak bener. Jangan masuk organisasi, pasti kamu bakal terpengaruh,"

dan masih banyak lagi.

Dulu aku tak tahu dulu harus menjawab apa. Sekarang aku tahu apa jawabannya, "Banyak Tidur Bikin Geblek,".

Masalah capek sebenarnya jauh dalam lubuk hati tetap ada. Tetapi kebesaran niat dan keinginan itu lebih kuat. Aku nggak bisa menahannya. Aku bisa saja tidur sepanjang hari di kasur, atau bahkan nonton youtube sejak subuh hingga subuh lagi. Bisa saja. Namun siapa yang menjamin mimpimu akan tergapai? Sedangkan yang sudah berusaha saja pasti menemui kegagalan. Bayangkan bila tak terbiasa merasakan kegagalan, bisa dipastikan momen pertama kali gagal tak akan bangun lagi.



Entah mengapa atau barangkali sudah menjadi kebiasaan, aku nggak bisa nggak berkegiatan. Aku berada pada tahap bila tak menghasilkan sesuatu satu hari saja, rasanya pasti ada yang kurang. Jadi hal ini memang sengaja aku tanamkan sejak awal kuliah "buat apa ya, mau apa ya,". Semuanya butuh proses untuk mencapai tahap ini. Tak serta-merta aku tiba-tiba bisa begini. Males juga tak jarang datang, tetapi ya tergantung pada diri kita sebenarnya. Mau terbuai atau melawan.

Aku pernah melakukan sepuluh pekerjaan dalam satu hari dengan Dead Line dihari yang sama atau bahkan tiga sampai lima tugas dalam sekali waktu. Bisa? Bisa!

Kurang tidur itu pasti, ngantuk dan capek itu juga pasti bagi siapapun yang ingin lebih atau berkemajuan. Walaupun demikian, sedikitpun aku tak merasa sudah lebih dari yang lain. Dalam pikiranku, aku ini masih kurang, kurang dan kurang. Aku masih goblok, goblik dan gubluk. Maka dari itu aku ingin menjadi bisa menjadi mampu dan tentu menggapai mimpiku.

Seringkali orang,

"Sekarang Doni sudah sukses, bisa belikan bapaknya mobil dan rumah. Wes pokoknya wes sukses,"

"Rumi loh sekarang sudah sukses, usahanya punya cabang dimana-mana, padahal masih mahasiswa,"

dan masih banyak lagi. Kesuksesan hanya dikaitkan dengan uang dan kaya. Padahal, sukses itu boleh dengan bebas ditafsirkan oleh setiap orang. Karena setiap orang punya parameter sendiri dalam menentukan ia sudah sukses atau belum.

Kembali lagi...



Ikut bermacam kegiatan bukan berarti kita tidak memprioritas satu sama lain. Dalam sebuah organisasi kita perlu memberikan kontribusi. Mengapa? Karena organisasi hanyalah sebuah alat. Ia tak akan hidup kalau orang-orang didalamnya tak pernah bergerak atau tak pernah mau berkontribusi. Bagiku berkontribusinya bisa dengan berbagai hal. Terlebih dengan hal yang kita sukai.

Masalah waktu, semua yang telah putuskan patut pula dipertanggungjawabkan. Baik kiranya kalau bisa belajar memutuskan dan bertanggung jawab. Semua organisasi yang kita ikuti punya hak yang sama untuk dikembangkan dan dijalankan dengan baik. Dan kita punya kewajiban untuk terus memberikan yang terbaik. 



Terus berproses, belajar tak jenuh-jenuh berpraktek tak jemu-jemu. Jangan takut dikritik, karena mencintai tak harus memuji dan kritik adalah salah satu wujud menyayangi. Mimpi kita besar, kita tahu apa yang hendak kita lakukan dan buat di masa mendatang serta saat ini. Jangan biarkan Indonesia, Ummat dan Agama kehilangan kader terbaiknya hanya karena menyerah pada sebuah berproses. Kita sudah ditunggu!

Utamanya kita yang duduk di bangku perguruan tinggi. Kita punya tanggung jawab kepada masyarakat. Kita duduk juga atas perjuangan serta doa-doa mujarab mereka. Maka tak patut kiranya bilamana kita hanya berleha-leha menikmati setiap kemudahan. Masyarakat akan memanggil pada waktunya, tampilkan diri dan buktikan kita generasi yang membawa perubahan menjadi lebih baik.

Perjuangan itu lelah dan itu adalah hal yang lumrah. Maka dari itu, kemenangan bukanlah milik orang-orang yang menyerah.

 Semangat!

0 comments:

Post a Comment

Kontak

Blogger

Malang - Indonesia

Email :

mirzaronasari@gmail.com