Ayah yang Menyebalkan


Rumah terasa hampa tanpa ibuku sejak ia pergi kembali beberapa tahun lalu. Masakan sederhana yang biasanya tersaji hangat ketika aku pulang kini tak ada. Iya, biasanya aku disambut hidangan mewah, sayur lodeh terong dan tempe goreng. Ini permintaanku ketika ibu tanya "Besok mau dimasakin apa le pas pulang?". 

Walaupun kini aku bisa masak sendiri dan rasanya sama. Tapi, momennya beda. Ketepatan takaran garam, lada hingga lengkuas, ternyata tak membuatnya terasa seperti Sayur Lodeh Terong ndeso buatan ibuku. Bumbu itu namanya cinta.

Aku jarang bercerita tentang Ayahku. Ia bukan tipe ayah yang tak acuh pada anaknya. Tapi juga bukan yang 100% hadir untuk anaknya. Terutama akhir-akhir ini setelah ibu pergi dan ayah masuk usia remaja kedua. Gayanya kembali merasa remaja. Aku sampai nggak begitu kenal dengan ayahku sendiri di beberapa momen. Pun demikian dengan adikku yang agak merasa ayahku masuk ke fase remaja kedua. Atau orang sering bilang pubertas kedua.

Beberapa kali ia meminta menikah lagi, tapi aku dan adik tak setuju. Bukan karena apa, ribet. Bukan karena warisan. Sumpah! Aku bodoooo amat sama itu. Pun dengan adikku. Ribet harus menyesuaikan lagi dengan orang baru. Terus juga, kayaaaak, akan terjadi momen kayaaaak "Ini ayahku, tapi kooook sama yang lain", yaa gitu-gitulah. Aneh. Mungkin terlihat egois ya, karena itu hak ayahku. Tapi, ketika aku diberi ruang memberikan pendapat, yaaaa aku bilang nggak.

Memang, menikah lagi itu tujuannya agar ada yang menemani diakhir hayatnya. Tapi, aku pun bisa melakukan itu. Ayahku sudah dua kali aku tawarkan untuk tinggal bersamaku, tapi selalu menolak. Alasannya nggak ada teman di sini. Lebih enak di Jember dan Banyuwangi, banyak teman. Bapakku memang orang yang baterai sosialnya 100%. Nggak ada habisnya. Walaupun ngantuk, ada orang dateng ya diladeni.

Sudah ku bilang sebelumnya, ayahku bukan orang yang kaku. Ia juga menunjukkan rasa sayangnya kepada aku dan adik. Ah nggak enak panggil adik dari tadi, lansung Yufa aja ya. Hahaha. Sering banget ayah itu peluk, cium bahkan gendong kita.

Selayaknya anak kecil menuju remaja, aku juga pernah malu pas bapakku ngantar ke sekolah. Itu semua karena bapakku nganterinnya pakai sepeda ontel, aku malu. Yang lain naik motor. MAKLUM TONTONANKU SINETRON YANG DIKIT-DIKIT HUUUU ANAK ORANG MISKIN!

Aku gak bayangin, apa yang dirasakan ayahku ketika aku minta turun jauh dari sekolah. Pasti ayah tahu kalau aku malu. Itupun yang aku takutkan ketika besok anaku sudah seusiaku dulu. Dia akan malu nggak ya ayahnya dagang Dimsum. Bakal malu nggak ya ayahnya buluk hahahahaha

Kembali ke Ayahku. Ketika aku kelas 3 SD, ada masanya aku ikut merantau ayahku ke Makassar. Kondisi ekonomi saat itu buruk sekali. Aku ingat, 22 April tahun 2006. Aku ulang tahun. Aku bilang ke ayah. "Yah aku ulang tahun lo,". Ku sampaikan dengan polos dan berharap mendapat sesuatu dari pernyataanku itu. Ayah yang saat itu sedang memperbaiki busi Suprafit yang dipinjamkan bosnya bilang, "Oh ya! Selamat ulang tahun ya Fan (panggilanku), besok kalau ayah punya uang ayah belikan hadiah ya," sambil terus membersihkan businya dan senyum yang belum ada kerutan di dahinya.

Di depan Apotek jalan Datuk Museng, ombak pantai Losari terasa kencang ku dengar. Harapanku sirna dan sia-sia. Mendengar jawaban tidak memuaskan itu, aku kebelakang. Aku hendak menemui ibuku yang sedang masak untuk caterin para kuli jawa. Aku masuk ke dalam Apotek, menuju ke panti pijat tuna netra yang dioperasionalkan ayah di belakang Apotek. Aku bilang, "Bu, aku ulang tahun.". Ibu sambil menggoreng telur lalu "ngawe-ngawe" atau melambai tanda aku diminta mendekat kepadanya. Tanpa bicara dulu, ibu langsung menarikku dan bilang, "Selamat ulang tahun ya Le. Kamu sudah besar ya. Doakan Ayah Ibu punya rezeki lebih biar kamu bisa beli jajan ya," kata ibu. Aku jawab, "Emoh, kurang,". Setelah ku katakan itu aku pun berlari dan lupa dengan semuanya. Tapi, setelah dewasa, di momen itulah ternyata aku belajar bahwa tidak semua hal yang kita mau bisa diwujudkan segera.

Kondisi ekonomi yang ambruk saat itu, membuatku sering kali minder dengan beberapa teman-teman di sekolah. Aku yang paling jelek bajunya. Aku yang paling bingung dengan bahasa Makassar karena aku pendatang. Aku yang ranking belakang. Ah semua itu membuatku minder maksimal.

Pernah suatu ketika, ayah menyudahi kerja sebagai pengelola panti pijat tuna netra. Ia kemudian menjadi tukang pos antar penawaran kartu kredit ke rumah-rumah elit di Makassar. Saat itu aku dijemput dari sekolah saat pulang. Lalu berkeliling Makassar untuk kirim beberapa surat penawaran kartu kredit. Disitulah aku mengenal jalan-jalan tikus yang biasanya disebut lorong oleh warga Makassar. Ketika sudah selseai mengirim surat-surat itu, ayah kembali ke agennya untuk mengambil upahnya. Aku ingat sekali, saat ayah mendatkan upahnya waktu itu ayah bilang, "Le, ayah dapat uang! Alhamdulillah ya!". Aku hanya tersenyum. Tentu saja, bapakku jauh lebih bersyukur dengan rezeki tersebut.

Dari sekian banyak momen ceritaku sama ayah, aku jadi lebih legowo kalau ayah adalah manusia yang perlu istirahat dengan dunianya. Ujiannya begitu keras saat itu. Bahkan mungkin sampai hari ini, yang masih lalu lalang mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Aku masing sering menyalahkan diriku pada kondisi ayahku yang hari ini masih belum bisa menikmati hidupnya bahkan untuk sekadar kestabilan ekonomi. Walaupun, sebagai anak aku nggak punya kewajiban untuk menafkahi ayahku, tapi hati ini sedih ketika ayah sendiri, mungkin lapar, mungkin sulit, mungkin sedang bingung. Tapi ia tak punya teman bercerita, orang yang dipeluk dari hasil cintanya dengan istrinya. Aku dan Yufa saja sekarang sudah berpisah jauh. Yufa di Bali, aku di Sidoarjo. Ayahku PP Banyuwanti-Jember. 

Ayah pernah kirim video ia tengah turut serta kerja teman lamanya. Usahanya adalah service mesin cuci. Ayahku mengirim video saat ia tengah menservice mesin cuci. Ketika video itu dikirim dan aku melihatnya, bukan cuman bingung. Aku nangis tersedu-sedu. Meras bersalah akan kondisi ini. Padahal yaaaaaa bukan. Tapi aku memiliki tanggung jawab itu. Aku ingin sekali suatu hari nanti ayah tinggal dengan aku. Bisa aku dampingi di sisa hidupnya. Karena ia satu-satunya cintaku sepeninggalan ibu yang tersisa. Hanya padanya aku bisa memeluk tanpa bicara. Walaupun nggak bisa dipungkiri, aku punya beberapa kekesalan pada Ayah. Tapi aku perlahan memlupakan itu karena mungkin ayah nggk tahu atau mungkin memang niat tapi pasti nggak mungkin mau menyakiti aku.

Aku yakin, ayah mencintaiku. Ayah menyayangi aku sepenuh hati dan seluruhnya. Aku yakin cinta ayah seperti bagaimana aku mencintai anakku sampai akhir hayat. Semoga doaku untuk ayah selalu mengiri. Yah walupun ayah sering mengesalkan, tapi aku kangen.

0 komentar

Tulis komentar